Tampilkan postingan dengan label BAHAGIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAHAGIA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juni 2012

Kunjungan Keluarga Sakinah ke TAPOS

Kunjungan Keluarga Sakinah ke TAPOS
Suatu saat peserta komunitas Keluarga Sakinah (Harmonis) berkunjung ke TAPOS, peternakan sapi.
Pemandu peternakan tersebut menceritakan bahwa sapi disini sangat sehat-sehat dan kuat-kuat.

Pemandu : "Bapak dan Ibu, ini sapi jenis Limousin sangat kuat, sehari bisa 5 kali berhubungan"

Ibu-ibu sambil nyenggol Bapaknya : "Tuh.. Pak 5 kali sehari bisa nggak...?"

Pemandu : "Bapak dan Ibu, ini sapi Australia lebih kuat lagi sehari bisa 10 kali"

Ibu-ibu nyenggol lagi Bapaknya : "Tuh.. pak 10 kali bayangin .....!",

Bapak-bapak semakin panas dan tanya kepada pemandu :
"Pak ... itu 10 kali dengan betinanya yang sama apa nggak ...?"

Pemandu : "ya... nggak lah Pak"

Bapak-bapak : "Tuh... Bu, betinanya beda-beda boleh nggak ...?"

Ibu-ibu cemberut dan diam.



Ditulis oleh Dedi Waluyo
Babat, Jawa Timur, 8 Februari 2009  Jam 5:23:34

Menggapai Kebahagiaan Rumah Tangga

Keluarga Sakinah

Menggapai Kebahagiaan Rumah Tangga
يَا عَائِشَةُ ارْفُقِي فَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا دَلَّهُمْ عَلَى بَابِ الرِّفْقِ
“Wahai Aisyah! Berkasih sayanglah! Sesungguhnya Allah jika menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga, Allah menunjukkan mereka pada pintu kasih sayang.”(HR. Ahmad).
ثَلَاثَةٌ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ، وَالْمَسْكَنُ الصَّالِحُ ، وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ ، وَثَلَاثَةٌ مِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ الْمَرْأَةُ السُّوءُ ، وَالْمَسْكَنُ السُّوءُ ، وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ
“Di antara tanda kebahagiaan anak Adam ada tiga, celakanya pun ada tiga. Kebahagiaan manusia ialah beristrikan wanita salihah, bertempat tinggal di rumah yang baik dan memiliki kendaraan yang baik. Celakanya manusia adalah istri yang jahat, rumah yang buruk dan kendaraan yang jelek.”(HR. Ahmad).
Tidak disangkal lagi bahwa rumah tangga yang berbahagia adalah bagian dari harapan utama banyak orang, khususnya kaum muslimin. Sebagaimana pesan Nabi SAW. di atas, bahwa di antara tanda kebahagiaan seorang suami adalah jika mendapatkan istri yang solehah. Dan celakanya seorang suami adalah ketika mendapatkan istri yang jahat.
Tentu saja kebahagiaan rumah tangga tidak muncul secara otomatis. Harus ada ikhtiar yang harus diupayakan oleh seorang muslim dan muslimah agar memperoleh kebahagiaan tersebut. Ada beberapa pijakan yang harus dimiliki muslim dan muslimah agar mendapatkan kebahagiaan dalam berumah tangga, yaitu:
Membangunnya pada landasan akidah
Yang paling awal harus dilakukan seorang pria adalah mencari calon istri yang taat kepada Allah SWT. Ketaatan dan kesalehan adalah prioritas utama yang harus didahulukan seorang pria saat akan membangun rumah tangganya. Sabda Nabi saw.:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka nikahilah yang memiliki agama, niscara selamat dirimu.”(HR. Bukhari).
Demikian pula seorang muslimah pun harus memilih calon suami yang memiliki dien yang baik. Apalagi suami adalah imam dalam rumah tangga dan menjadi kepala pendidikan pertama bagi anak-anak mereka kelak. Bila suami tidak memiliki komitmen ketaatan pada Allah, maka arah rumah tangga bukan meniti ridlo Allah.
Karena itu bangunan rumah tangga harus diletakkan di atas pondasi akidah. Keyakinan bahwa keluarga adalah ladang amal soleh dan bukan sekedar untuk mendapatkan kebahagiaan jasmani. Ikatan cinta yang dibangun bukan sekedar sehidup semati, tapi hingga di akhirat kelak. Bersama masuk jannah yang dijanjikan Allah Ta’ala.
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ
“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan.”(QS. az-Zukhruf: 70).
Syariat sebagai pedoman rumah tangga
Kebahagiaan tidak mungkin dicapai tanpa syariat sebagai pedoman dalam berkeluarga. Hal itu dikarenakan syariat telah memberikan pedoman hak dan kewajiban semua anggota keluarga; suami serta istri, orang tua pada anak, dan anak pada orang tua, bahkan dalam hubungan silaturahim. Misalnya, Islam mengajarkan pentingnya suami menghargai istri. Sabda Nabi saw.:
لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang pria beriman membenci wanita beriman, jika ia tidak suka suatu perbuatannya, pasti ada juga perbuatan lain yang menyenangkannya.”(hr. Muslim)
Syara’ pun menetapkan seorang suami wajib memberikan nafkah sebaik-baiknya kepada anggota keluarganya. Memberinya tempat tinggal, makanan dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.
Menghiasi keluarga dengan nafsiyyah Islamiyyah
Sebuah keluarga tidak akan mencapai keharmonisan tanpa penguatan atas jiwa dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adanya taqarrub kepada Allah akan memberikan quwwatur ruhiyyah kepada keluarga dalam mengarungi medan kehidupan.
رَحِمَ اللَّهُ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى ثُمَّ أَيْقَظَ امْرَأَتَهُ فَصَلَّتْ فَإِنْ أَبَتْ نَضَحَ فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ وَرَحِمَ اللَّهُ امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ ثُمَّ أَيْقَظَتْ زَوْجَهَا فَصَلَّى فَإِنْ أَبَى نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ
“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari untuk shalat kemudian ia membangunkan istrinya sehingga ia sholat, maka jika ia tidur suaminya memercikkan air pada wajahnya, dan semoga Allah merahmati seorang istri yang bangun malam lalu shalat, kemudian ia membangunkan suaminya sehingga ia shalat, dan jika suaminya mengabaikannya, istrinya memercikkan air pada wajahnya.”(HR. Nasa’iy).
Kerusakan keluarga yang hari ini terjadi berupa broken home, perselingkuhan, maraknya perceraian, karena rumah tangga tidak dilandasi pada akidah Islam dan pedoman syariat. Di mana suami tidak menghargai istri, dan istri membangkang dari ketaatan terhadap suaminya. Sementara anak tidak diberikan haknya dalam kasih sayang dan pendidikan. Bila keluarga muslim ingin meraih sakinah, mawaddah dan rahmah, maka hanya kembali pada Islam itu semua akan dapat diraih.
Naskah kultum dari Arif BI
Dipublikasikan oleh YGNI
Bogor, 2 Maret 2012 M / 09 Rabi’ul Akhir 1433 H
Abu Mufid

SEPUTAR KELUARGA SAKINAH

TIP KELUARGA SAKINAH

SAKINAH (ketentraman)
Ia bermakna kecenderungan dan kecondongan hati. Artinya seorang lelaki (suami) senang dan merasa tenteram jika berada di samping wanita (isterinya).
MAWADAH (cinta)
Secara umum maknanya adalah kecintaan suami kepada isterinya.
RAHMAH (kasih sayang)
Ada yang menafsirkannya dengan kelahiran anak sebagaimana bunyi firman Allah pada surat Maryam: 2 yang menyebutkan anak sebagai rahmat.
Namun pada umumnya para ulama menafsirkan rahmah sebagai bentuk kasih sayang yang wujudnya lebih dalam dari sekedar cinta. Ia terwujud dalam sikap suami yang melindungi, mengayomi, dan tidak ingin isterinya mendapat celaka dan gangguan.
Dengan demikian, perasaan pertama yang muncul pada diri seorang suami pada isterinya adalah sakinah (ketenangan) saat berada di sisinya. kemudian ia melahirkan perasaan cinta, dan pada tahap selanjutnya sikap kasih sayang. Jadi, keluarga Keluarga Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah (SAMARA) dapat dikatakan sebagai keluarga yang tentram, harmonis, dan bahagia.

Setelah tahu pengertian keluarga SAMARA tsb. Tentu kita sepakat, bahwa keluarga SAMARA adalah idaman kitt semua. Nah, trus bagaimana cara2nya membangun dan membina keluarga idaman tsb?
Ada beberapa hal yg perlu diterapkan agar kita mampu membangun skaligus membina keluarga SAMARA tsb.

1. Tanamkan Akidah dan Ajaran Islam yg Benar pada Keluarga.
Bagi seorang muslim, akidah adl suatu hal yg sangat prinsipil, sbab mnyangkut kyakinan dan hubungan dgn sang Pencipta. Dlm sbuah kluarga, seorang suami adl pemimpin/ imam keluarga. Ia hrus mampu dan cakap dlm mngarahkan anak istrinya pd hal2 positif yg ssuai dgn anjuran agama. Ia jg hrus mjd teladan ato contoh yg baik bagi anggota keluarganya. Contoh sderhana, ktika amakn malam brsama, mk seorang suami hrus memberi contoh cara makan yg baik kpada anak2 lawan bini nya (klo dlm bhsa banjar,he3). Cara makan yg baik tentu saja cara makan yg mncontoh Nabi Muhammad saw, yaitu dimulai dgn mncuci tangan, kmudian brdoa ktika mau mnyantap, dan di akhiri dg doa lg stelah slesai, sbagai wujud syukur atas rizki yg ALLOH swt berikan.
Seorang suami jg hrus membimbing anak & istrinya dlm mnjalankan ibadah shalat, puasa, mengkaji Quran, & ibadah2 lainnya. Mungkin ada yg mngeluh, “Waduh… berat banget kang…! Jangankn ilmu2 agama, ngaji aja baru bisa, alif….ba….ta….genteng….presss….! Mau, blajar malezz… coz, udah tua…mikiri cari duit aja susah…!”
Nah, ini dia masalahnya…! Tdk ada kmauan utk blajar n cari2 alasan utk gak bisa. Jk emang mrasa gak punya kmampuan ato gak tau ilmunya, ya blajar lah. Misalnya dgn ikut2 pngajian, ato memanggil ustd utk mngajar di rumahnya ato bisa jg dng mempelajari kitab2 ato buku2 agama, klo ada yg mennganjal di hati, tanya ma ustd ato org yg lebih mumpuni.
Ini penting… Toh jg utk kbaikan qt di dunia n yg lbih utama lg utk kbaikn qt di akherat kelak. Tdk ada kata terlambat utk blajar dan terus memperbaiki dri slama qt ada kmauan. Masak kalah ama nenek sy yg udah tua renta n ompong aja msih gemar ikut pngajian.

2. Memberikan harta yg halal utk Keluarga.
Saya kira ini cukup jelas. Kriteria harta yg halal d sini adl harta yg di dpt dr sumber yg halal dan cara mndapatkannya jg halal.
Bnyak contoh kluarga yg tdk berkah, krn harta yg dikumpulkannya dr hasil yg haram (sperti: hasil korupsi, judi, suap, hasil memeras org, dll) yg kmudian mlahirkan brbagai masalah kluarga, sperti misalnya; istrinya tdk menghormatinya, anaknya lelakinya trjerat narkoba, anak perempuannya hamil d luar nikah, dll (na’u dzubillah….).

3. Mnumbuhkan Sikap Pengertian dan Amanah.
Sikap saling pngertian, saling menghormati, & amanah sangatlah penting dlm sbuah kluarga. Ktika sifat pngertian & kpercayaan diantara suami istri hilang, jangan harap kluarga akan damai & bahagia. Yg trjadi justru sbaliknya, suami istri bisa saling curiga Percekcokan & kributan bisa trjadi stiap wktu di dlm rumah. Ini dia jg yg bisa memproduksi piring terbang, gelas terbang, bisa2 kucing ikut terbang jua.
Jk udah dmikian, bikin rumah kada nyaman lg nah… sapa pula nang betah tinggal di tmpat kyak itu… (wah, tmen2ku yg dr jawa, lombok, n sumbawa moga aja msih paham ye,he3… smbil blajar bhsa banjar nah!)
So, dlm sbuah rumah tangga hendaknya stiap anggota kluarga hrus mnyadari peranan n tanggung jwbnya masing2. Sumai-istri hrus sling menghormati dan berbaik sangka kpd pasngannya. Dgn bgitu, mreka sama2 ikhlas dlm mnjalankn tugas n tanggung jwb masing2, seberat apapun tugas yg hrus mreka pikul. Bahkan mrekapun bisa saling membantu dgn penuh cinta…. Oh, indahnya….!


4. Meluangkan waktu utk rekreasi Bersama Keluarga di Luar Rumah.
Stiap mnusia pasti bisa mngalami kjenuhan dlm hidup ini. Apalg org yg slalu sibuk dgn pekerjaannya yg monoton alias itu2 tok… Suami jenuh dgn rutinitasnya yg stiap hari yg harus brangkat pagi buat cari nafkah, dan pulang sore dgn tubuh lelah. Blum lg klo ada lembur. Blum lg sang istri, yg shari2nya hanya di rumah sj, mencuci pakaian, masak, dan jg mngurus anak2.
Dlm kondisi jenuh sperti ini tak ada salahnya qt mluangkan waktu utk rekreasi brsama kluarga dlm stiap jangka waktu trtentu dng memilih tmpat yg tertentu, di sesuaikan dgn biaya yg Anda miliki. (Ingat, jangan rekreasi di kuburan ato tempat kramat lho… apa lg sambil nyari wangsit utk ndapetin nomer togel,he3….just kidding!)
Rekreasi pun bisa qt manfaatkan utk mngajarkan kpd anak2 tentang kebesaran Alloh swt. Biasanya, suasana yg rileks dlm rekreasi justru lbih memudahkn anak2 dlm mnyerap plajaran & bimbingan yg qt brikan. Dgn bgitu, rekreasi bisa brmanfaat ganda, di samping mnghilangkan kjenuhan, memperakrabsrta mnjalin komunikasi antar anggota kluarga, jg bisa mnambah rasa syukur n iman kpd Alloh swt. Shingga, kluarga qt slalu diliputi cahaya iman dan rasa syukur. Amin…

5. Berdo’a
Yups, btul banget… Tentunya dgn membaca doa yg diperintahkan dlm AlQuran.
Sperti berikut ini:
“Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota 'ayun waj'alnaa lilmuttaqiina imama…”
Artinya: Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kpd kami istri-istri kami dan keturunan kami sbagai pnyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi org2 yg bertakwa. (QS. Al-Furqan:74)

Keluarga Sakinah sekalian,
Doa Keluarga Sakinah  sejak kecil sudah sering kita dengar. Doa Keluarga Sakinah tersebut sering dilantunkan untuk puji-pujian sambil menunggu imam datang di mushola dekat rumah. Doa yang terlihat sederhana namun  cukup menyentuh.

Dalam Alquran surat al Furqaan ayat 74 Allah Ta'ala berfirman:



keluarga sakinah

"Dan orang orang yang berkata: 'Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.'(QS 25:74)"

Dalam tafsir jalalain disebutkan:
(Dan orang-orang yang berkata, "Ya Rabb kami! Anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami) ia dapat dibaca secara jamak sehingga menjadi Dzurriyyaatinaa, dapat pula dibaca secara Mufrad, yakni Dzurriyyatinaa (sebagai penyenang hati kami) artinya kami melihat mereka selalu taat kepada-Mu (dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.") yakni pemimpin dalam kebaikan.

"...istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)...". Istri dan anak (mungkin cucu dan seterusnya tapi den sinyo belum mengalami sendiri) memang bisa menyenangkan hati. Itulah yang Den Sinyo rasakan dalam meniti rumah tangga tidak menutup kemungkinan rekanKeluarga Sakinah juga merasakannya. Seorang lelaki berhak bersenang-senang dengan anak dan istrinya, dengan cara yang baik tentunya.

Doa keluarga sakinah kemudian dilanjutkan dengan "...dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa".

Rekan Keluarga Sakinah yang dirahmati Allah, permohonan kepada Allah agar dianugerahi istri dan keturunan yang takwa sehingga bisa menyenangkan hati dan menyejukkan perasaan. Dengan demikian akan bertambah banyaklah di muka bumi ini hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang: Di samping itu bermunajat kepada Allah agar keturunannya (anak cucunya) di samping menjadi orang-orang yang bertakwa seluruhnya mereka hendaknya menjadi penyeru manusia kepada takwa menjadi pemimpin bagi orang-orang yang yang bertakwa.

Rekan Keluarga Sakinah sekalian, keinginan agar anak cucu dan keturunan menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa bukan karena mengharapkan kedudukan atau kekuasaan, namun semata-mata tulus ikhlas agar penduduk dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang beriman dan bertakwa untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Dengan demikian meski kita meninggal tetap mendapat kiriman pahala atas apa yang dilakukan keturunan kita. Sabda Rasulullah SAW:

"Apabila seorang anak Adam telah mati, maka putuslah segala pahala amalnya kecuali dari tiga macam: sedekah yang dapat dimanfaatkan orang, ilmu pengetahuan yang ditinggalkannya yang dapat diambil manfaatnya sesudah matinya, anak yang saleh yang selalu mendoakannya". (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

Kalimat terakhir dari Doa Keluarga Sakinah tersebut berisi harapan sekaligus ikrar bahwa seorang laki-laki harus menjadi imamnya orang-orang yang bertakwa, tidak lain anak istri kita. Untuk menjadi imam bagi orang takwa tentu saja mengandung konsekuensi bahwa sang pemimpin, dalam hal ini kepala rumah tangga, juga harus bertakwa.

Doa Keluarga Sakinah tersebut di atas hanyalah sebuah doa, sebuah permohonan, munajat kepada Allah SWT. Selain memohon, kita juga diwajibkan untuk berikhtiar untuk mencapai keinginan kita tersebut. Berusaha segenap hati, pikiran, dan tindakan untuk mendapatkan ridho Allah. Jika Allah ridho, apapun yang kita inginkan pasti terwujud.

Rekan Keluarga Sakinah, pepatah mengatakan, "Satu teladan lebih bermakna dari seribu nasihat".

sumber  dari artikel di google
Keluarga Sakinah, Modal Untuk Reuni Di Surga [1]

 
Ilustrasi

Selasa, 22 Mei 2012

Oleh: Shalih Hasyim
MAHA SUCI Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan. Berjenis laki-laki dan perempuan. Ada kutub positif dan kutub negatif. Ada siang dan malam. Suka dan duka. Sedih dan gembira. Jika bisa dikelola dengan baik, perputaran dan pergiliran dua keadaan yang saling kontradiktif, kehidupan manusia menjadi dinamis dan romantis.

Allah Subhanahu Wata’ala juga telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin (36) : 36)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Di antara tanda-tanda keagungan Allah ialah, Dia menciptakan bagimu, dari jenismu sendiri, pasangan-pasangannya, supaya kamu hidup tenteram bersamanya, dan dijadikan Allah bagimu cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berfikir.” (QS. Ar Rum (30) : 20-21).

Mitsaqan Ghalizha

Ayat ini ditempatkan Allah Subhanahu Wata’ala pada rangkaian ayat tentang tanda-tanda kebesaranNYA di alam semesta -  tegaknya langit, terhamparnya bumi, turunnya air hujan, gemuruhnya suara halilintar, dan keajaiban penciptaan manusia. Dengan ayat di atas Allah Subhanahu Wata’ala ingin menegaskan dan mengajarkan kepada kita betapa Ia dengan sengaja menciptakan kekasih yang menjadi pasangan/pendamping setia hidup manusia.

Diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala bumi dengan segala yang ada di atasnya – samudera luas, bukit tinggi, rimba belantara – untuk kebahagiaan manusia. Diedarkan Allah Subhanahu Wata’ala mentari, rembulan, gugusan bintang-gemintang, dijatuhkan-Nya hujan, ditumbuhkan-Nya pepohonan, dan disirami-Nya tetanaman, semua karunia itu untuk kebahagiaan manusia.
Tetapi, Allah Subhanahu Wata’ala Yang Maha Mengetahui memberikan lebih daripada itu. Diketahui-Nya getar dada kerinduan hati. Yaitu bersanding sehidup semati dengan si jantung hati. Betapa sering kita memerlukan seseorang yang mau mendengar bukan saja kata yang diucapkan, melainkan juga jeritan hati yang tidak terungkapkan, yang bersedia menerima segala perasaan – tanpa pura-pura, prasangka, dan pamrih. Karena itu diciptkan-Nya seorang kekasih. Allah Subhanahu Wata’ala tahu, pada saat kita diharu biru, diempas ombak, diguncang badai, dan dilanda duka, kita memerlukan seseorang yang mampu meniupkan kedamaian, mengobati luka, menopang tubuh yang lemah, dan memperkuat hati – tanpa pura-pura, prasamgka, dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih. Allah Subhanahu Wata’ala tahu, kadang-kadang kita berdiri sendirian lantaran keyakinan atau mengejar impian. Kita memerlukan seseorang yang bersedia berdiri di samping kita tanpa pura-pura, prasangka dan pamrih. Karena itu diciptakan-Nya seorang kekasih.
Supaya hubungan antara pencinta dan kekasihnya itu menyuburkan ketentraman, cinta, dan kasih sayang, Allah Subhanahu Wata’ala menetapkan suatu ikatan suci, yaitu aqad nikah. Dengan ijab (penyerahan) dan qobul (penerimaan) terjadilah perubahan besar: yang haram menjadi halal, yang masiat menjadi ibadat, kekejian menjadi kesucian, dan kebebasan menjadi tanggung jawab. Nafsu pun berubah menjadi cinta (mawaddah) dan kasih (rahmah) dan ulfah (hubungan yang jinak).
Begitu besarnya perubahan itu sehingga Al Quran menyebut aqad nikah sebagai mitsaqan ghalizha (perjanjian yang berat). Hanya tiga kali kata ini disebut di dalam Al Quran.
Pertama, ketika Allah Subhanahu Wata’ala membuat perjanjian dengan para Nabi – Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad saw.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً
“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, musa, dan Isa putera Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: Al Ahzab (33): 7).

Kedua, ketika Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat Bukit Thur di atas kepala bani Israil dan menyuruh mereka bersumpah setia di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُواْ الْبَابَ سُجَّداً وَقُلْنَا لَهُمْ لاَ تَعْدُواْ فِي السَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً
“Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina karena (mengingkari) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka : Masukilah pintu gerbang itu sambil bersujud, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka : Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang berat.” (QS: An Nisa (4) : 154).

Ketiga, ketika Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan hubungan pernikahan (QS. An Nisa (4) : 21).

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنكُم مِّيثَاقاً غَلِيظاً
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.”

Mitsaqan ghalizha
berarti kita sepakat untuk menegakkan dinul islam dalam rumah, sepakat untuk membina rumah tangga sakinah, mawaddah dan rahmah serta ulfah. Sepakat meninggalkan masiat. Sepakat saling mencintai karena Allah Subhanahu Wata’ala. Menghormati dan menghargai. Saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saling menguatkan keimanan. Saling menasihati dalam menetapi kebenaran dan saling memberi nasihat dengan kasih sayang. Saling setia dalam suka dan duka, kefakiran dan kekayaan, sakit dan sehat.
Pernikahan juga bermakna sepakat meniti hari demi hari dengan kebersamaan. Sepakat untuk saling melindungi dan menjaga. Saling memberikan rasa aman. Saling mempercayai dan menutup aib. Saling mencurahkan dan menerima keluhan dan perasaan. Saling berlomba dalam beramal. Saling memaafkan kesalahan. Saling menyimpan dendam dan amarah.

Pernikahan berarti pula sepakat untuk tidak melakukan penyimpangan. Tidak saling menyakiti perasaan dan pisik. Juga sepakat untuk mengedepankan sikap lemah lembut dalam ucapan, santun dalam pergaulan, indah dalam penampilan, mesra dalam mengungkapkan keinginan. 

Ijab Qabul, Bukan Peristiwa Kecil

Karena itu peristiwa aqad nikah bukanlah kejadian kecil di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala. Akad nikah sama tingginya dengan perjanjian para rasul, sama dahsyatnya dengan perjanjian bani Israil di bawah bukit Thursina yang bergantung diatas kepala mereka.

Peristiwa aqad nikah tidak saja disaksikan oleh kedua orangtua, sudara-saudara, dan sahabat-sahabat, sanak famili, handai taulan, tetangga, tetapi juga disaksikan oleh para malaikat di langit yang tinggi, dan terutama sekali disaksikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala Penguasa alam semesta.
Bila perjanjian ini disia-siakan, diceraikan ikatan tali hubungan yang sudah terbuhul, diputuskan janji setia yang telah terpatri, kita tidak saja harus bertanggung jawab kepada semua yang hadir menyaksikan peristiwa yang berkesan itu, tetapi juga bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala Swt.

وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلىَ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُوْلَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا (رواه البخاري ومسلم)
“Laki-laki adalah pemimpin di tengah keluarganya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya, dan ia harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya.” (HR. Bukhari Muslim).

Kata Rasulullah, “Yang paling baik di antara kamu adalah yang paling baik dan paling lembut terhadap keluarganya.” (Al Hadits).

Mengapa Kita Memelihara Ikatan Itu ?

Mengapa Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya mewasiatkan agar kita memelihara aqad nikah yang sakral ini? Mengapa kebaikan manusia diukur dari cara dia memperlakukan keluarganya? Mengapa suami dan isteri harus mempertanggungjawabkan peran yang dilaksanakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala?
Jawabannya sederhana: Karena Allah Subhanahu Wata’ala Maha Mengetahui bahwa kebahagiaan dan penderitaan manusia sangat tergantung pada hubungan mereka dengan orang-orang yang dicintai mereka, yakni dengan keluarganya. Bila di dunia ini ada surga, kata Marie von Ebner Eschenbach, surga itu adalah pernikahan yang bahagia. Tetapi, bila di dunia ini ada neraka, neraka itu adalah pernikahan yang gagal. Para psikolog menyebutkan persoalan rumah tangga sebagai penyebab stress yang paling besar dalam kehidupan manusia.
Karena itulah, Islam dengan penuh perhatian mengatur urusan rumah tangga. Sebuah ayat pernah diturunkan dari langit hanya untuk mengatur urusan pernikahan antara Zainab dan Zaid bin Haritsah. Sebuah surat turun untuk mengatur urusan rumah tangga seluruh kaum muslimin. Ribuan tahun yang silam, di Padang Arafah, di hadapan ratusan ribu ummat islam yang pertama, Rasulullah saw. menyampaikan khotbah perpisahan.

اَيُّهَا النَّاسُ فَا تَّقُوا اللهَ فِي النِّسَاءِ فَاِنَّكُمْ اَخَذْتُمُوْهُنَّ بِأَمَانَةِ اللهِ وَاسْتَحْلَلْكُمْ فُرُوْجَهُنَّ بِكَلِمَةِ اللهِ , اِنَّ لَكُمْ عَلىَ نِسَائِكُمْ حَقًّا , وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَاِنَّهُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ , لاَ يَمْلِكُنَّ ِلاَنْفُسِهِنَّ شَيْئًا وَلَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلاً

“Wahai manusia, takutlah kepada Allah Subhanahu Wata’ala akan urusan wanita. Sesungguhnya kamu telah mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah Subhanahu Wata’ala. Kami halalkan kehormatan mereka dengan kalimah Allah Subhanahu Wata’ala. Sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istrimu, dan istrimu pun mempunyai hak atasmu. Ketahuilah, aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik terhadap istri kalian. Mereka adalah penolong kalian. Mereka tidak memilih apa-apa untuk dirinya, dan kamu pun tidak memilih apa-apa dari diri mereka selain itu. Jika mereka patuh kepadamu, janganlah kamu berbuat aniaya terhadap mereka.” (HR. Muslim dan Turmudzi).*

Keluarga Sakinah, Modal Untuk Reuni Di Surga [2] 
Add caption
Rabu, 23 Mei 2012

Oleh: Shalih Hasyim
Menjadi Imam Yang Adil
  

Saudaraku, dengan izin Allah Subhanahu Wata’ala jualah Anda sampai pada saat yang paling indah, paling bahagia, tetapi juga paling mendebarkan dalam kehidupan Anda. Saat paling indah, sebab mulai sejak sekarang cinta tidak lagi berbentuk khayalan dan impian. Saat yang paling bahagia, sebab akhirnya Anda berhasil mendampingi wanita yang Anda cintai. Saat yang paling mendebarkan, sebab mulai saat ini Anda memikul amanat untuk menjadi pemimpin (qowwam) keluarga.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاء بِمَا فَضَّلَ اللّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنفَقُواْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّهُ وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah Subhanahu Wata’ala telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu maka wanita yang salehah, ialah yang taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala lagi memelihara diri [tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya] ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah Subhanahu Wata’ala telah memelihara (mereka) [mempergauli istrinya dengan baik]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya [meninggalkan rumah tanpa izin suami], maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. An Nisa (4) : 34)

Menyusahkannya, maksudnya  untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Kalau pada saat ini dada Anda berguncang, darah Anda berdebur, dan suara Anda bergetar, itu adalah pertanda Anda tengah memasuki babak baru dalam kehidupan Anda. Dahulu Anda adalah manusia bebas yang boleh pergi sesuka Anda. Tetapi sejak hari ini Anda belum juga pulang setelah larut malam, di rumah Anda ada seorang wanita yang tidak bisa tidur karena mencemaskan Anda. Kini, bila berhari-hari Anda tidak pulang tanpa berita, di kamar Anda ada seorang perempuan lembut yang akan membasahi bantalnya dengan linangan air mata. Dahulu bila Anda mendapat musibah, Anda hanya mendapat ucapan ‘turut berduka cita’ dari sahabat-sahabat Anda. Tetapi kini, seorang istri akan bersedia mengorbankan apa saja agar Anda meraih kembali kebahagiaan Anda. Anda sekarang mempunyai kekasih yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala untuk berbagi suka dan duka, berbagi rasa dan empati dengan Anda.

Saudaraku, wanita yang duduk di samping Anda bukanlah segumpal daging yang dapat Anda kerat dengan tidak semena-mena, dan bukan pula budakm belian yang dapat Anda perlakukan sewenang-wenang. Ia adalah wanita yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala untuk membuat hidup Anda lebih indah dan lebih bermakna. Ia adalah amanat Allah Subhanahu Wata’ala yang akan Anda pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

اِثْنَانِ يُعَجِّلُهُمَا اللهُ فِي الدُّنْيَا اَلْبَغْيُ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ

“Ada dua dosa yang akan didahulukan Allah Subhanahu Wata’ala siksanya di dunia ini juga, yaitu al baghyu dan durhaka kepada orangtua.” (HR. Turmudzi, Bukhari dan Thabrani).

Al baghyu adalah berbuat sewenang-sewenang, berbuat zalim dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah Subhanahu Wata’ala ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menterlantarkan istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama Anda. Karena itulah Rasulullah Saw. mengukur tinggi rendahnya martabat seorang laki-laki dilihat dari cara ia bergaul dengan istrinya.

مَا أَكْرَمَ النِّسَاءَ اِلاَّ كَرِيْمٌ وَمَاأَهَانَهُنَّ اِلاَّ لَئِيْمٌ

“Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.”

“Laki-laki yang tidak sukses dalam mengendalikan keluarganya, membiarkannya berbuat maksiat, ia termasuk dayyus (bencong). Tidak akan masuk surga orang yang bencong (la yadkhulul jannata dayyusan).”
(al-Hadits).

Rasulullah Muhammad adalah manusia yang paling mulia. Ia melayani keperluan istrinya, memasak, menyapu lantai, memerah susu, dan membersihkan pakaian, cerita Aisyah. Dia memanggil istrinya dengan gelaran yang baik. Ya humaira (wahai yang memiliki pipi kemerah-merahan).

Sepeninggal Rasulullah ada beberapa orang menemui Aisyah, memintanya agar menceritakan perilaku Rasulullah saw. Aisyah sesaat tidak menjawab pertanyaan itu. Air matanya berderai, kemudian dengan nafas panjang, Ia berkata :

كَانَ كُلُّ أَمْرِهِ عَجَبًا

(semua perilakunya mengagumkan).
Ketika didesak untuk menceritakan perilaku Rasul yang paling mempesona, Aisyah kemudian mengisahkan bagaimana Rasulullah yang mulia bangun di tengah malam dan meminta izin kepada Aisyah untuk shalat malam. Izinkan aku menyembah Tuhanku, ujar Rasulullah kepada Aisyah. Bayangkan, sampai shalat malam saja diperlukan izin istrinya. Disitu terhimpun kemesraan, kesucian, kesetiaan dan penghormatan.
Muliakan istri saudara sedemikian rupa sehingga kelak, bila Allah Subhanahu Wata’ala menakdirkan Anda meninggal dahulu, lalu kami tanyai istri Anda tentang perilaku Anda, ia akan menjawab seperti Aisyah : Ah ………… semua perilakunya indah, mengagumkan.

Menjadi Makmum Yang Taat

Saudariku, Rasulullah saw pernah bersabda :

وَلَوْ كُنْتُ اَ مِرًا اَحَدًا اَنْ يَسْجُدَ ِلاَحَدٍ لَاَمَرْتُ النِّسَاءَ اَنْ يَسْجُدْنَ لِاَزْوَاجِهِنَّ لِمَا جَعَلَ اللهُ لَهُمْ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحَقِّ
   
“Seandainya aku boleh memerintahkan manusia bersujud kepada manusia lain, akan aku perintahkan istri untu bersujud kepada suaminya karena besarnya hak suami yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala atas mereka.” (HR. Abu Daud, Al Hakim, dan At Turmudzi)

Banyak istri yang menuntut agar suaminya membahagiakan mereka. Jarang terpikirkan bagaimana ia berupaya membahagiakan suami. Mawaddah dan rahmah tumbuh berkembang dalam suasana memberi bukan mengambil. Cinta adalah sharing – saling berbagi.

Saudariku, Anda boleh memberi apa saja yang Anda miliki kepada pasangan Anda. Tetapi, bagi suami, tiada suatu pemberian istri yang paling membahagiakan selain hati yang selalu siap berbagi rasa, berbagi kesenangan dan penderitaan.

Di luar rumah ia menemukan wajah-wajah tegar, mata-mata tajam, ucapan kasar, pergumulan hidup yang berat, digoncangkan dengan berbagai kesulitan. Ia ingin kembali ke rumah, disitu ditemukan wajah yang ceria, penerimaan yang tulus, ucapan yang lembut, pAndangan mata yang sejuk, yang bersumber dari keteduhan kasih sayang Anda. Suami saudari ingin mencairkan seluruh beban jiwanya dengan kehangatan air mata yang keluar dari telaga kasih sayang Anda.

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِيْ اِذَا نَظَرْتَ اِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَاِذَا اَمَرْتَهَا اَطَاعَتْكَ وَاِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ

“Istri yang paling baik ialah yang membahagiakanmu bila kamu memandangnya, yang mematuhimu bila kamu menyuruhnya, dan memelihara kehormatan dirinya dan hartamu bila kamu tidak ada.” (HR. Thabrani).

Allah Subhanahu Wata’ala membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah Subhanahu Wata’ala; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)." (QS. At-Tahrim (66) : 10).

Artinya, nabi-nabi sekalipun tidak dapat membela isteri-isterinya atas azab Allah Subhanahu Wata’ala apabila mereka menentang agama.

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
وَمَرْيَمَ ابْنَتَ عِمْرَانَ الَّتِي أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهِ مِن رُّوحِنَا وَصَدَّقَتْ بِكَلِمَاتِ رَبِّهَا وَكُتُبِهِ وَكَانَتْ مِنَ الْقَانِتِينَ

“Dan Allah Subhanahu Wata’ala membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah Aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah Aku dari kaum yang zhalim. Dan (Ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.” (QS. At-Tahrim (66) : 11-12).

Surga itu terletak di bawah telapak kaki kaum ibu, kata Rasulullah. Apakah rumah tangga yang Anda bangun hari ini akan menjadi surga dan neraka tergantung Anda sebagai ratu rumah tangga (rabbatul bait). Rumah tangga akan menjadi surga (baitii jannatii) bila di dalamnya ada hiasan kesabaran, kesetiaan dan kesucian.

“(Wahai kaum wanita), ingatlah ayat-ayat Allah Subhanahu Wata’ala dan al-hikmah yang dibacakan di rumah-rumah kamu. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala Maha Penyayang dan Maha Mengetahui.” (QS. Al Ahzab (33) : 34).

Saudariku, kelak bila perahu rumah tangga Anda bertubrukan dengan kerikil tajam, bila impian ketika remaja menjelma menjadi kenyataan yang pahit, bila bukit-bukit pulau idaman di guncang badai, kami ingin melihat Anda tetap teguh, tegar di samping suami Anda. Anda tetap tersenyum walaupun langit berawan tebal. Sedotlah haul dan kekuatan Allah Subhanahu Wata’ala, dengan bangun malam. Jika pada saat yang bersamaan suami Anda mengaminkan doa yang Anda panjatkan, insya Allah Subhanahu Wata’ala harapan Anda akan segera dikabulkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala Swt. Tiada pemAndangan yang terindah bagi suami Anda kecuali Anda berdoa dengan suara lirih untuk kebahagiaannya.

Aisyah pernah cemburu kepada kepada Khadijah, dan berkata :

مَا غِرْتُ مِنِ امْرَاَةٍ مَا غِرْتُ مِنْ خَدِ يْجَةَ

“Aku tidak pernah menaruh cemburu terhadap seorang perempuan sebagaimana aku cemburu terhadap Khadijah.” Rasulullah senantiasa terkenang dengan istri pertamanya itu, sekalipun secara fisik telah berpisah. Beliau bersabda :

اَمَنَتْ بِيْ اِذْ كَذِبَنِي النَّاسُ , وَوَاسَتْنِيْ بِمَا لِهَا اِذَ حَرَمَنِي النَّاسُ

“Khadijah beriman kepadaku pada saat orang mendustakan daku. Dan Khadijah membantuku dengan harta kekayaannya pada saat orang menghentikan pertolongan kepadaku.”
Saudariku, seandainya ditakdirkan Allah Subhanahu Wata’ala Anda meninggal dunia lebih dahulu, lalu kami menemui suami Anda dan kami tawarkan pengganti Anda, pada saat itu suami Anda akan marah seperti Rasulullah yang mulia berkata, ketika Aisyah merasa cemburu dengan Khadijah. Ia berkata: “Demi Allah Subhanahu Wata’ala, tidak ada yang dapat menggantikan dia. Dia yang memperkuat hatiku ketika aku hampir berputus asa. Dia mempercayaiku ketiak semua orang menjauhiku. Dia memberikan ketulusan hati ketika semua orang mengkhianatiku.”

اَيُّمَا امْرَاَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتْ اَلْجَنَّةَ

“Bila seorang wanita meninggal dunia, sedangkan suaminya ridha sekali dengan tingkah lakunya ketika ia masih hidup, maka wanita itu masuk surga.”
Jika suami dalam keluarga berhasil menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, disupport dengan sami’na wa ‘atha’na istri (sendiko dhawuh), dan diteladani oleh anak keturunannya, mereka akan reuni di surga, kelak.

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ
“dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. Ath Thur (52) : 21)

Alhasil,  anak cucu mereka yang beriman itu ditinggikan Allah Subhanahu Wata’ala derajatnya sebagai derajat bapak- bapak mereka, dan dikumpulkan dengan bapak-bapak mereka dalam surga. Itulah sebaik-baiknya reuni di surga.

Marilah arahkan pasangan kita atau kita antarkan pernikahan kita untuk mengayuh kapal rumah tangga dengan bekal taqwa. Semoga dengan tiket dari Allah Subhanahu Wata’ala ini akan menyelamatkan keduanya dari gelombang yang akan menerpa dinding-dinding kapal (QS. Al Baqoroh : 197).


Selamat berlabuh untuk menempuh batera kehidupan baru, semoga selamat dan bahagia sampai pulau idaman.*
Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah

Sumber : http://www.hidayatullah.com