Minggu, 17 Juni 2012

KAKAWIN NAGARAKRETAGAMA

Lontar Negarakretagama

Kakawin Nagarakretagama atau juga disebut dengan nama kakawin Desawarnana atau juga disebut dengan nama kakawin Desawarnana bisa dikatakan merupakan Kakawin Jawa Kuna yang paling termasyhur. Kakawin ini adalah yang paling banyak diteliti pula. Kakawin yang ditulis tahun 1365 ini, pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1894 oleh J.LA Brandes, seorang ilmuwan Belanda yang mengiringi ekspedisi knil di Lombok. Ia menyelamatkan isi perpustakaan Raja Lombok di Cakranagara sebelum istana sang raja akan dibakar oleh tentara KNIL.

Kakawin ini menguraikan keadaan di Kraton Majapahit dalam masa pemerintahan prabu Hayam Wuruk, raja agung di tanah Jawa dan juga Nusantara. Beliau bertakhta dari tahun 1350 sampai 1389 Masehi, pada masa puncak kerajaan Majapahit, kerajaan terbesar yang pernah ada di Nusantara.

Negarakertagama diperkenalkan dalam bahasa Inggris lewat Java in the 14th century, antara 1960-1963, oleh Pigeaud. Dipopulerkan lewat kalangwan, juga dalam bahasa Inggris, oleh Zoetmulder, pada 1974, sebagai salah satu naskah sastra Jawa Kuno yang dikumpulkan disana. dan baru pada 1979 untuk pertama kalinya Nagarakertagama bisa dibaca dalam bahasa Indonesia lewat terjemahan Slamet Mulyana.

Naskah Nagara Kretagama ditemukan sebanyak 5 (lima) naskah. Pada 7 Juli 1978 di kota Antapura, Kabupaten Lombok, pulau Bali ditemukan 1 (satu) naskah dengan judul Desawarnana, tersimpan di Geria Pidada, Karang Asem. Pada tahun 1874 di Puri Cakranegara, pulau Lombok di temukan 1 (satu) naskah dengan judul Nagara Kretagama. Selanjutnya, tidak diketahui angka tahun penemuannya, di Geria Pidada, Klungkung ditemukan turunan rontal Nagara Kretagama 1 (satu) naskah dan di Geria Carik Sideman ditemukan 2 (dua) naskah turunan Nagara Kretagama juga. Nagara Kretagama berisi uraian tentang hubungan keluarga raja, para pembesar negara, jalannya pemerintahan, adat istiadat, candi makam para leluhur. Dan desa-desa perdikan, keadaan ibu kota, keadaan desa-desa sepanjang jalan keliling Sang Prabu pada 1359 masehi.

Peran Nagarakretagama sebagai sumber sejarah kuno Indonesia relatif besar meski ada yang berpendapat Nagarakretagama dipengaruhi unsur subyektif dalam rangka menyenangkan penguasa saat itu. Nagarakretagama memiliki nama lain, yakni Desawarnana atau Uraian tentang Desa-desa, seperti tercantum dalam pupuh 94. Ini karena Raja Hayam Wuruk sering turun ke bawah untuk menghormati nenek moyangnya dan masyarakatnya.

Nagarakretagama merupakan sebuah "karya jurnalistik" terbaik, sementara Mpu Prapanca dikatakan "wartawan" tersohor dari Kerajaan Majapahit. Namun, banyak hal yang masih terabaikan hingga kini, misalnya penelitian terhadap candi-candi dan desa-desa yang disebutkan dalam kitab itu. Mpu Prapanca sendiri dipandang sebagai pelopor arkeologi Indonesia dan pendahulu historic archaeology (arkeologi sejarah). Ini karena Prapanca membuat semacam inventarisasi dan deskripsi mengenai berbagai jenis peninggalan purbakala yang ada pada zamannya. Prapanca telah melakukan field survey (survei lapangan), suatu hal yang menguntungkan dunia ilmu pengetahuan

Menurut Budya Pradipta dalam makalah ”Bedah Naskah Nagarakretagama yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI pada 2005, wilayah Majapahit dikelompokkan menjadi lima golongan, yaitu
  1. Jawa meliputi Nagara Majapahit, Jiwana, Singasari, Wengker, Lasem, Daha, Pajang, Matahun, Paguhan, Wirabhumi, Mataram, Pawwanawwan, dan Kebalan.

  2. Digantara artinya wilayah lain yaitu daerah yang takluk kepada raja Rajasanagara selain Jawa. Daerah tersebut adalah Pahang, Melayu, Gurun, dan bakulapura.

  3. Nusantara adalah pulau-pulau lain, yang termasuk Nusantara adalah Daerah melayu, daerah Tanjung Nagara, dan daerah Semenanjung Malaya. Desantara adalah segala penjuru, seluruh angkasa, daerah lain, dan negara lain,

  4. Desantara adalah Syangka, Ayodyapura, Dharmanagari, marutama, Rajapura, Anghanagari, Campa, Kamboja.

  5. Dwipantara adalah kepulauan lain, yang termasuk dwipantara dan mitra adalah Yawana, Cina, Karnataka, dan Goda.
    Di balik kontroversi ini ada hal menarik: Sunda dan Madura tidaklah disebut sebagai wilayah kerajaan, padahal teks ini menyebut banyak sekali daerah dari ujung utara pulau Sumatra, Brunei sampai Papua (dalam teks disebut Wwanin = Onin).
Penulisnya mengakui Nagarakretagama bukan buku pertama yang ditulisnya. Sebelumnya Prapanca telah menulis Parwasagara, Bhismasaranantya, Sugataparwa, dan dua kitab lagi yang belum selesai, yaitu Saba Abda dan Lambang. Namun semua ini sampai sekarang belum ditemukan atau memang sudah hancur.

Nagarakretagama artinya adalah "Negara dengan Tradisi (Agama) yang suci. Tetapi pengarangnya juga menyebutnya Deśawarṇana, yang berarti "Penulisan tentang Daerah-Daerah". Nagarakretagama digubah oleh mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi (tahun 1287 Saka di desa Kamalasana di lereng Gunung. Sewaktu menulis Nagarakretagama, Prapañca masih belum bergelar mpu karena masih seorang calon pujangga. Ayahnya bernama mpu Nadendra dan memegang jabatan: Dharmâdhyaksa ring Kasogatan, atau Ketua dalam urusan agama Budha.

Nagarakrtagama terdiri dari 98 pupuh. Naskah ini dimulai dengan pemujaan terhadap raja Wilwatikta yakni raja Majapahit dijaman raja Hayam Wuruk yang disebutkan sebagai Siwa-Budha yaitu Rajasanagara. Tujuh pupuh berikutnya berisi tentang raja dan keluarganya, sembilan pupuh kemudian tentang istana dan kota Majapahit. Dari sinilah sejarawan dan arkeolog merekonstruksi sejarah Majapahit. Bagian paling panjang merupakan catatan perjalanan Hayam Wuruk ke Lumajang (23 pupuh) yang dilakukan pada bulan Agustus sampai September 1359.

Sepuluh pupuh diantaranya menceritakan silsilah singkat raja-raja Singasari dan Majapahit (wangsa Girindra). Maklum Singasari dan Majapahit merupakan dua kerajaan yang tidak dapat dipisahkan. Bagian berikutnya menceritakan perburuan raja (10 pupuh), kisah Gadjah Mada (23 pupuh), dan upacara sraddha bagi ibunda raja (9 pupuh). Dan tujuh pupuh terakhir menceritakan diri Prapanca sendiri.

Teks ini semula dikira hanya terwariskan dalam sebuah naskah tunggal yang diselamatkan oleh J.LA Brandes, seorang ahli Sastra Jawa Belanda, yang ikut menyerbu Istana Raja Lombok pada tahun 1894. Ketika penyerbuan ini dilaksanakan, para tentara KNIL membakar istana dan Brandes menyelamatkan isi perpustakaan raja yang berisikan ratusan naskah lontar. Salah satunya adalah lontar Nagakretagama ini. Semua naskah dari Lombok ini dikenal dengan nama lontar-lontar Koleksi Lombok yang sangat termasyhur. Koleksi Lombok disimpan di perpustakaan Universitas Laiden Belanda.

Naskah Nagarakretagama disimpan di Leiden dan diberi nomor kode L Or 5.023. Lalu dengan kunjungan Ratu Juliana, Belanda ke Indonesia pada tahun 1973, naskah ini diserahkan kepada Republik Indonesia. Konon naskah ini langsung disimpan oleh Ibu Tien Soeharto di rumahnya, namun ini tidak benar. Naskah disimpan di Perpustakaan Nasional RI dan diberi Kode NB 9.

PENGARANGNYA

Mpu Prapañca adalah seorang bujangga sastra Jawa yang hidup pada abad ke-14 pada zaman Majapahit dan kemungkinan selain bujangga juga merupakan mpu yang paling ternama. Namanya dikenal oleh semua orang di Indonesia. Hal ini disebabkan karena Prapañca merupakan penulis Kakawin Nagarakretagama yang termasyhur tersebut.

Diperlukan waktu 614 tahun bagi turunan orang-orang Majapahit, untuk tidak hanya mendapat gambaran tentang kehidupan di dalam istana, dimana biasanya para pujangga bercokol di menara gadingnya, melainkan sebuah desawarnana(deskripsi mengenai desa-desa). Prapanca tidak mendapatkan kebenaran itu dengan gratis, ia harus memisahkan diri dari rombongan Hayam Wuruk, dalam perjalanan keliling tahun 1359, untuk melihat kenyataan lain, yang tidak semua penulis masa itu berani melakukan, apalagi menuliskannya.

Nagarakertagama, satu-satunya sumber tiada tara tentang keberadaan Majapahit, hanya bisa dilahirkan oleh sebuah visi yang berani melawan kemapanan, bukan hanya dalam penulisan sastra, tapi juga kemapanan politik. Dalam analisisnya Slamet Mulyana mengungkapkan, meski naskah itu merupakan sebuah pujasastra kepada Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara, namun paham politik Prapanca sebenarnya tidak sejajar dengan Gajah Mada, yang telah menjadi pedoman semenjak pemerintahan Tribuwana Tunggadewi.

Penciptaan karya sastra ini sebagai tanda bakti kepada Prabu Hayam Wuruk walaupun dalam menulis kitab Nagarakretagama Empu Prapanca sudah tidak tinggal lagi didalam keraton Majapahit. Empu Prapanca tidak lagi menjabat sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan (Pembesar urusan agama Buddha) tetapi hidup di desa Kamalasana di lereng gunung sebagai pertapa. Empu Prapanca meninggalkan keraton Majapahit karena mendapat hinaan berupa celaan terhadap sikap Empu Prapanca oleh Sri Baginda yang menyebabkan kedudukannya tergeser sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan.

Prabu Hayam Wuruk percaya kepada fitnah seorang bangsawan terhadap dirinya. Namun demikian empu Prapanca sama sekali tidak menaruh dendam terhadap sang Prabu bahkan memuja keagungan Prabu Hayam Wuruk. Konon ketika Raja Lasem berkuasa di Lombok naskah itu dibawa dari Bali ke Lombok. Atas dasar tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Emu Prapanca setelah meninggalkan Majapahit menetap di desa Karangasem Bali.

Desa kamalasana tempat Empu Prapanca bertapa adalah nama sansekerta dari nama asli Karangasem. Pada pertengahan tahun 1978 di desa Karangasem Bali ditemukan naskah Dcsawarnnana yaitu karya sastra karangan Empu Prapanca yang sekarang disimpan di Griya Pidada Karangasem Bali.

Tiga naskah lagi yang menyebutkan Kitab Nagarakretagama ditemukan di Griya Pidada Kelungkung, dan Griya Carik Sidemen. Naskah ini ini sama dengan Kitab Nagarakretagama yang ditemukan di Puri Cakranegara Lombok. Decawarnnana yang menguraikan tentang desa desa yang dikunjunginya dalam perjalanan mengiringi Prabu Hayam Wuruk kemudian Saka Abda, Lambang, Parwa Sagara, Bhismasaranantya dan Sagataparwa.

Dari pupuh 17/8 diketahui bahwa Empu Prapanca adalah keturunan seorang Dharmadyaksa (Pemimpin kegamaan) pada jaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk. Empu Prapanca menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Dharmadyaksa (pemimpin agama Buddha) tahun 1358 sampai tahun 1361 masehi. Sejak kecil Empu Prapanca suka menghadap Raja dengan maksud agar Raja mengijinkannya untuk mengikuti perjalanan beliau kemana saja karena keinginannya untuk merangkai sejarah wilayah Negara dalam kekawin.

Nama Prapanca adalah nama samaran. Prapanca terdiri dari unsur Pra dan Panca yang artinya pra lima yaitu Prapanca, Pracacab, Prapongpong, Pracacad dan pracongcong yaitu cacad badaniah pengarangnya yaitu jika tertawa terbahak bahak, pipinya sembab, matanya mengeluyu seperti orang ngantuk, cakapnya agak ganjil alias lucu.Nama prapañca kemungkinan merupakan nama pena dan artinya adalah "bingung.

Nama aslinya Rangkwi Padelengan Dang Acarya Nadendra yang menjabat sebagai Dharmadyaksa Kasogatan pada pemerintahan Prabu Hayam wuruk seperti tercantum dalam Piagam Trawulan dan Piagam sekar. Penggunaan nama samaran Prapanca yang berarti kesedihan dipakai karena pada waktu menulis Nagarakretagama pengarangnya hidupnya sedang diliputi oleh kesedihan karena kehilangan kedudukan sebagai Dharmmadyaksa Kasogatan dan pergi meninggalkan Majapahit untuk hidup di desa dalam kesepian. Ia takut dikenal orang karena ciri-cirinya sehingga sehingga menggunakan nama samaran.

Kitab Nagarakretagama yang ditulisnya pada tahun saka 1287 (September-Oktober 1365) menguraikan tentang perjalanan keliling Prabu hayam Wuruk ke lumajang pada tahun saka 1281 atau 1359 Masehi dimana Empu Prapanca ikut serta dalam rombongan tersebut sebagai Dharmmadyaksa Kasagotan.


ISI KAKAWIN NAGARAKRETAGAMA

PUPUH I
  1. Om ! Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki Pelindung jagat Siwa-Buda Janma-Batara senantiasa tenang tenggelam dalam Samadi Sang Sri Prawatanata, pelindung para miskin, raja adiraja dunia Dewa-Batara, lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah.
  2. Merata serta meresapi segala mahluk, nirguna bagi kaum Wisnawa, Iswara bagi Yogi, Purusa bagi Kapila, hartawan bagai Jambala, Wagindra dalam segala ilmu, dewa Asmara di dalam cinta birahi, Dewa Yama di dalam menghilangkan penghalang dan menjamin dunia.
  3. Begitulah pujian pujangga penggubah sejarah raja, Kepada Sri Nata Rajasanagara, Sri Nata Milwatikta yang sedang memegang tampuk negara, bagai titisan Dewa-Batara beliau menyapu duka rakyat semua, tunduk setia segenap bumi Jawa, bahkan malah seluruh Nusantara.
  4. Tahun Saka masa memanah surya (1256) beliau lahir untuk jadi narpati, selama dalam kandungan di Kahuripan, telah tampak tanda keluhuran, gempa bumi, kepul asap, hujan abu, guruh halilintar menyambar-nyambar, Gunung Kampud gemuruh membunuh durjana, penjahat musnah dari negara.
  5. Itulah tanda bahwa Batara Girinata menjelma bagai raja besar, terbukti, selama bertahta, seluruh tanah Jawa tunduk menadah p'rintah, wipra, satria, waisya, sudra, keempat kasta sempurna dalam pengabdian, durjana berhenti berbuat jahat, takut akan keberanian Sri Nata.

Pupuh II
  1. Sang Sri Rajapatni yang ternama adalah nenekanda Sri Baginda, seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya, selaku wikuni tua tekun berlatih yoga menyembah Buda, tahun Saka dresti saptaruna (1272) kembali beliau ke Budaloka.
  2. Ketika Sri Rajapatni pulang ke Jinapada, dunia berkabung, kembali gembira bersembah bakti semenjak Baginda mendaki tahta, girang ibunda Tribuwana Wijayatunggadewi mengemban tahta, bagai rani di Jiwana resmi mewakili Sri Narendra-putera.
Pupuh III

  1. Beliau bersembah bakti kepada ibunda Sri Rajapatni, setia mengikuti ajaran Buda, menyekar yang telah mangkat, ayahanda Baginda Raja yalah Sri Kertawardana-raja, keduanya teguh beriman Buda demi perdamaian praja.
  2. Ayahnya Sri Baginda-raja bersemayam di Singasari, bagai Ratnasambawa menambah kesejahteraan bersama, teguh tawakal memajukan kemakmuran rakyat dan negara, mahir mengemudikan perdata, bijak dalam segala kerja.

Pupuh IV
  1. Puteri Rajadewi Maharajasa, ternama rupawan, bertahta di Daha, cantik tak bertara, bersandar nam guna, adalah bibi Baginda, adik maharani di Jiwana, Rani Daha dan Rani Jiwana bagai bidadari kembar.
  2. Laki sang rani Sri Wijayarajasa dari negeri Wengker, rupawan bagai titisan Upendra, mashur bagai sarjana, setara raja Singasari, sama teguh di dalam agama, sangat mashurlah nama beliau di seluruh tanah Jawa.

Pupuh V
  1. Adinda Baginda raja di Wilwatikta, puteri jelita bersemayam di Lasem, puteri jelita Daha, cantik ternama, Indudewi puteri Wijayarajasa.
  2. Dan lagi puteri bungsu Kertawardana, bertahta di Pajang, cantik tidak bertara, puteri Sri Narapati Jiwana yang mashur, terkenal sebagai adinda Sri Baginda.

Pupuh VI
  1. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana, laki tangkas Rani Lasem bagai raja daerah Matahun, bergelar Rajasawardana sangat bagus lagi putus dalam naya, Raja dan Rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.
  2. Sri Singawardana, rupawan, bagus, muda, sopan dan perwira, bergelar raja Paguhan, beliaulah suami Rani Pajang, mulia perkawinannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida, bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.
  3. Bhre Lasem menurunkan puteri jelita Nagarawardani, bersemayam sebagai permaisuri pangeran Wirabumi, Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana, bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.
  4. Puteri bungsu Rani Pajang mem'rintah daerah Pawanuhan, berjuluk Surawardani masih muda indah laksana gambar, para raja pulau Jawa masing-masing mempunyai negara, dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Sri Nata.

Pupuh VII
  1. Melambung kidung merdu pujian sang Prabu, beliau membunuh musuh-musuh, bagai matahari menghembus kabut, menghimpun negara di dalam kuasa, girang janma utama bagai bunga tunjung, musnah durjana bagai kumuda, dari semua desa di wilayah negara pajak mengalir bagai air.
  2. Raja menghapus duka si murba sebagai Satamanyu menghujani bumi, menghukum penjahat bagai Dewa Yana, menimbun harta bagaikan Waruna, para telik masuk menembus segala tempat laksana Hyang Batara Bayu, menjaga Pura sebagai Dewi Pertiwi, rupanya bagus seperti bulan.
  3. Seolah-olah Sang Hyang Kama menjelma, tertarik oleh keindahan Pura, semua para puteri dan istri sibiran dahi Sri Ratih, namun Sang Permaisuri keturunan Wijayarajasa tetap paling cantik, paling jelita bagaikan susumna, memang pantas jadi imbangan Baginda.
  4. Berputeralah beliau puteri mahkota Kusumawardhani, sangat cantik, sangat rupawan jelita mata, lengkung lampai, bersemayam di Kabalan, sang menantu Sri Wikramawardhana memegang perdata seluruh negara, sebagai dewa-dewi mereka bertemu tangan, menggirangkan pandang.

Pupuh VIII

  1. Tersebut keajaiban kota : tembok batu merah, tebal tinggi, mengitari Pura, pintu Barat bernama Pura Waktra, menghadap ke lapangan luas, bersabuk parit, pohon brahmastana berkaki bodi, berjajar panjang, rapi berbentuk aneka ragam, di situlah tempat tunggu para tanda terus menerus meronda, jaga paseban.
  2. Di sebelah Utara bertegak gapura permai dengan pintu besi penuh berukir, di sebelah Timur : panggung luhur, lantainya berlapis batu, putih-putih mengkilat, di bagian Utara, di Selatan pekan, rumah berjejal jauh memanjang, sangat indah, di Selatan jalan perempat : balai prajurit tempat pertemuan tiap Caitra.
  3. Balai agung Manguntur dengan balai Witana di tengah, menghadap padang watangan yang meluas ke empat arah; bagian Utara paseban pujangga dan menteri, bagian Timur paseban pendeta Siwa-Buda, yang bertugas membahas upacara pada masa grehana bulan Palguna demi keselamatan seluruh dunia.
  4. Di sebelah Timur pahoman berkelompok tiga-tiga mengitari kuil Siwa, di sebelah tempat tinggal wipra utama, tinggi bertingkat, menghadap panggung korban, bertegak di halaman sebelah Barat ; di Utara tempat Buda bersusun tiga, puncaknya penuh berukir, berhamburan bunga waktu raja turun berkorban.
  5. Di dalam, sebelah Selatan Manguntur tersekat pintu, itulah paseban, rumah bagus berjajar mengapit jalan ke Barat, di sela tanjung berbunga lebat, agak jauh di sebelah Barat Daya : panggung tempat berkeliaran para perwira, tepat di tengah-tengah halaman bertegak mandapa penuh burung ramai berkicau.
  6. Di dalam, di Selatan ada lagi paseban memanjang ke pintu keluar Pura yang kedua, dibuat bertingkat tangga, tersekat-sekat, masing-masing berpintu sendiri, semua balai bertulang kuat bertiang kokoh, papan rusuknya tiada tercela, para prajurit silih berganti, bergilir menjaga pintu, sambil bertukar tutur.

Pupuh IX

  1. Inilah para penghadap : pengalasan Ngaran, jumlahnya tak terbilang, Nyu Gading Janggala-Kediri, Panglarang, Rajadewi tanpa upama, Waisangka kapanewon Sinelir, para perwira Jayengprang Jayagung dan utusan Pareyok Kayu Apu, orang Gajahan dan banyak lagi.
  2. Begini keindahan lapang watangan, luas bagaikan tak berbatas, menteri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka, Bhayangkari tingkat tinggi berjejal menyusul di deret yang kedua, di sebelah Utara pintu istana, di Selatan satria dan pujangga.
  3. Di bagian Barat, beberapa balai memanjang sampai mercudesa, penuh sesak pegawai dan pembantu serta para perwira penjaga ; di bagian Selatan agak jauh : beberapa ruang, mandapa dan balai tempat tinggal abdi Sri Narapati di Paguhan, bertugas menghadap.
  4. Masuk pintu ke dua, terbentang halaman istana berseri-seri, rata dan luas, dengan rumah indah berisi kursi-kursi berhias ; di sebelah Timur menjulang rumah tinggi berhias lambang kerajaan, itulah balai tempat terima tatamu Sri Nata di Wilwatikta.

Pupuh X

  1. Inilah pembesar yang sering menghadap di balai Witana, Wredamentri, tanda menteri pasangguhan dengan pengiring, Sang Panca Wilwatikta : mapatih, demung, kanuruhan, rangga, Tumenggung, lima priyayi agung yang akrab dengan istana.
  2. Semua patih, demung negara bawahan dan pengalasan, semua pembesar daerah yang berhati tetap dan teguh, jika datang berkumpul di kepatihan seluruh negara., lima menteri utama yang mengawal urusan negara.
  3. Satria, pendeta, pujangga, para wipra, jika menghadap berdiri di bawah lindungan asoka di sisi witana, begitu juga dua dharmadyaksa dan tujuh pembantunya, bergelar arya, tangkas tingkahnya, pantas menjadi teladan.

Pupuh XI

  1. Itulah penghadap balai witana, tempat takhta yang terhias serba bergas, pantangan masuk ke dalam Istana Timur, agak jauh dari pintu pertama, ke Istana Selatan tempat Singawardana, permaisuri, putra dan putrinya, ke Istana Utara tempat Kertawardana ; ketiganya bagai kahyangan.
  2. Semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni, kakinya dari batumerah pating berunjul, bergambar aneka lukisan, genting atapnya bersemarak serba meresap pandang menarik perhatian, bunga tanjung, kesara, cempaka dan lain-lainnya terpencar di halaman.

Pupuh XII

  1. Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng, Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja, Selatan Buda-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka, Barat tempat Arya, menteri dan sanak kadang adiraja.
  2. Di Timur tersekat lapangan, menjulang istana ajaib, Raja Wengker dan Rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci, berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem, tak jauh di sebelah Selatan Raja Wilwatikta.
  3. Di sebelah Utara pasar, rumah besar bagus lagi tinggi, di situ menetap patih Daha, adinda Baginda di Wengker Bhatara Narapati, termashur sebagai tulang punggung praja, cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.
  4. Di Timur Laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada, menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada negara, fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur, tangan kanan maharaja sebagai penggerak roda negara.
  5. Sebelah Selatan Puri, gedung kejaksaan tinggi bagus ; sebelah Timur perumahan Siwa, sebelah Barat Buda ; terlangkahi rumah para menteri, para arya dan satria, perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.
  6. Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang cemerlang, menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama ; negara-negara di Nusantara, dengan Daha bagai pemuka, tunduk menengadah, berlindung di bawah Wilwatikta.

Pupuh XIII

  1. Terperinci demi pulau negara bawahan, paling dulu M'layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya, pun ikut juga disebut daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane, Kampe, Haru serta Mandailing, Tamihang, negara Perlak dan Padang.
  2. Lwas dengan Samudra serta Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus, itulah negara-negara Melayu yang t'lah tunduk, negara-negara di pulau Tanjungnegara : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut.

Pupuh XIV

  1. Kadandangan, Landa Samadang dan Tirem tak terlupakan, Sedu, Barune (ng), Kalka, Saludung, Solot dan juga Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, ikut juga Tanjung Kutei, Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.
  2. Di Hujung Mendini Pahang yang disebut paling dahulu, berikut Langkasuka, Saimwang, Kelantan serta Trengganu, Johor, Paka, Muar, Dungun, Tumasik, Kelang serta Kedah, Jerai, Kanjapiniran, semua sudah lama terhimpun.
  3. Di sebelah Timur Jawa seperti yang berikut : Bali dengan negara yang penting Badahulu dan Lo Gajah, Gurun serta Sukun, Taliwang, pulau Sapi dan Dompo, Sang Hyang Api, Bima, Seran, Hutan Kendali sekaligus.
  4. Pulau Gurun yang biasa disebut Lombok Merah, dengan daerah makmur Sasak diperintah seluruhnya, Bantayan di wilayah Bantayan beserta kota Luwuk, sampai Udamakatraya dan pulau lain-lainnya tunduk.
  5. Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar, lagi pula Wanda(n), Ambon atau pulau Maluku, Wanin, Seran, Timor dan beberapa lagi pulau-pulau lain.

Pupuh VX

  1. Inilah nama negara asing yang mempunyai hubungan, Siam dengan Ayudyapura, begitupun Darmanagari, Marutma, Rajapura, begitu juga Singanagari, Campa, Kamboja dan Yawana yalah negara sahabat.
  2. Tentang pulau Madura, tidak dipandang negara asing, karena sejak dahulu dengan Jawa menjadi satu, konon tahun Saka lautan menantang bumi, itu saat Jawa dan Madura terpisah meskipun tidak sangat jauh.
  3. Semenjak Nusantara menadah perintah Sri Baginda, tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti, terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan, pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti.

Pupuh XVI

  1. Pujangga-pujangga yang lama berkunjung di nusantara, dilarang mengabaikan urusan negara, mengejar untung ; seyogyanya jika mengemban perintah ke mana juga menegakkan agama Siwa, menolak ajaran sesat.
  2. Konon kabarnya para pendeta penganut Sang Sugata, dalam perjalanan mengemban perintah Baginda Nata, dilarang menginjak tanah sebelah Barat pulau Jawa, karena penghuninya bukan penganut ajaran Buda.
  3. Tanah sebelah Timur Jawa terutama Gurun, Bali, boleh dijelajah tanpa ada yang dikecualikan, bahkan menurut kabaran mahamuni Empu Barada serta raja pendeta Kuturan telah bersumpah teguh.
  4. Para pendeta yang mendapat perintah untuk bekerja, dikirim ke Timur ke Barat, dimana mereka sempat melakukan persajian seperti perintah Sri Nata ; resap terpandang mata jika mereka sedang mengajar.
  5. Semua negara yang tunduk setia menganut perintah, dijaga dan dilindungi Sri Nata dari pulau Jawa ; tapi yang membangkang, melanggar perintah, dibinasakan pimpinan angkatan laut, yang telah mashur lagi berjasa.

Pupuh XVII

  1. Telah tegak kuasa Sri Nata di Jawa dan wilayah nusantara, di Sripalatikta tempat beliau bersemayam menggerakkan roda dunia, tersebar luas nama beliau, semua penduduk puas girang dan lega ; wipra, pujangga dan semua penguasa ikut menumpang menjadi mashur.
  2. Sungguh besar kuasa dan jasa beliau, raja agung wilayah Janggala Kediri ;raja agung dan raja utama ; lepas dari segala duka, mengenyam hidup penuh segala kenikmatan, terpilih semua gadis manis di seluruh wilayah Janggala Kediri, berkumpul di istana bersama yang terampas dari negara tetangga.
  3. Segenap tanah Jawa bagaikan satu kota di bawah kuasa Baginda ; ribuan orang berkunjung laksana bilangan tentara yang mengepung pura ; semua pulau laksana daerah pedusunan tempat menimbun bahan makanan ; gununga dan rimba hutan penaka taman hiburan terlintas tak berbahaya.
  4. Tiap bulan sehabis musim hujan beliau biasa pesiar keliling, desa Sima di sebelah Selatan Jalagiri, di sebelah Timur Pura, ramai tak ada hentinya selama pertemuan dan upacara prasetyan, girang melancong mengunjungi Wewe Pikatan setempat dengan candi lima.
  5. Atau pergilah beliau bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati, biasanya terus menuju Blitar, Jimur mengunjungi gunung-gunung permai, di Daha terutama di Polaman, ke Kuwu dan Lingga hingga desa Bangin, jika sampai di Jenggala singgah di Surabaya terus menuju Buwun.
  6. Tahun Aksatisurya (1275) sang prabu menuju Pajang membawa banyak pengiring ; tahun Saka angga-naga-aryama (1276) ke Lasem, melintasi pantai samudra ; tahun Saka pintu-gunung-mendengar-indu (1279) ke laut selatan menembus hutan, lega menikmati pemandangan alam indah Lodaya, Tetu dan Sideman.
  7. Tahun Saka seekor-naga-menelan bulan (1281) di Badrapada bulan tambah ; Sri Nata pesiar keliling seluruh negara menuju kota Lumajang, naik kereta diiring semua raja Jawa serta permaisuri dan abdi, menteri, tanda, pendeta, pujangga, semua para pembesar ikut serta.
  8. Juga yang menyamar Prapanca girang turut mengiring paduka Maharaja ; tak tersangkal girang sang kawi, putera pujangga, juga pencinta kakawin ; dipilih Sri Baginda sebagai pembesar keBudaan mengganti sang ayah ; semua pendeta Buda umerak membicarakan tingkah lakunya dulu.
  9. Tingkah sang kawi waktu muda menghadap raja, berkata berdamping, tak lain maksudnya mengambil hati, agar disuruh ikut beliau kemana juga ; namun belum mampu menikmati alam, membinanya, mengolah dan menggubah karya kakawin ; begitu warna desa sepanjang marga terkarang berturut.
  10. Mula-mula melalui Japan dengan asrama dan candi-candi ruk-rebah, sebelah Timur Tebu hutan Pandawa, Daluwang, Bebala di dekat Kanci ; Ratnapangkaja serta Kuti Haji Pangkaja memanjang bersambung-sambungan ; Mandala Panjrak, Pongging serta Jingan, Kuwu Hanyar letaknya di tepi jalan.
  11. Habis berkunjung pada candi makam Pancasara menginap di Kapulungan ; selanjutnya sang kawi bermalam di Waru, di Hering tidak jauh dari pantai, yang mengikuti ketetapan hukum jadi milik kepala asrama Saraya ; tetapi masih tetap dalam tangan lain, rindu termenung-menung menunggu.

Pupuh XVIII
  1. Seberangkat Sri Nata dari Kapulungan berdesak abdi berarak, sepanjang jalan penuh kereta, penumpangnya duduk berimpit-impit, pedati di muka dan di belakang, di tengah prajurit berjalan kaki, berdesak-desakan, berebut jalan dengan binatang gajah dan kuda.
  2. Tak terhingga jumlah kereta, tapi berbeda-beda tanda cirinya, meleret berkelompok-kelompok, karena tiap ment'ri lain lambangnya, rakrian sang menteri patih amangkubumi penatang kerajaan, keretanya beberapa ratus, berkelompok dengan aneka tanda.
  3. Segala kereta Sri Nata Pajang semua bergambar matahari, semua kereta Sri Nata Lasem bergambar cemerlang banteng putih, kendaraan Sri Nata Daha bergambar Dahakusuma mas mengkilat, kereta Sri Nata Jiwana berhias bergas menarik perhatian.
  4. Kereta Sri Nata Wilwatikta tak ternilai, bergambar buah maja, beratap kain geringsing, berhias lukisan mas, bersinar merah indah, semua pegawai, parameswari raja dan juga rani Sri Sudewi, ringkasnya para wanita berkereta merah, berjalan paling muka.
  5. Kereta Sri Nata berhias mas dan ratna manikam paling belakang, jempana-jempana lainnya bercadar beledu, meluap gemerlap, rapat rampak prajurit pengiring Janggala Kediri, Panglarang, Sedah, bhayangkari gem'ruduk berbondong-bondong naik gajah dan kuda.
  6. Pagi-pagi telah tiba di Pancuran Mungkur, Sri Nata ingin rehat, Sang rakawi menyidat jalan, menuju Sawungan mengunjungi akrab, larut matahari berangkat lagi tepat waktu Sri Baginda lalu, ke arah Timur menuju Watu Kiken, lalu berhenti di Matanjung.
  7. Dukuh sepi kebudaan dekat tepi jalan, pohonnya jarang-jarang,, berbeda-beda namanya, Gelanggang, Badung, tidak jauh dari Barungbung, tak terlupakan Ermanik, dukuh teguh taat kepada Yanatraya, puas sang dharmadhyaksa mencicipi aneka jamuan makan dan minum.
  8. Sampai di Kulur, Batang di Gangan Asem perjalanan Sri Baginda Nata, hari mulai teduh, surya terbenam, telah gelap pukul tujuh malam, baginda memberi perintah memasang tenda di tengah-tengah sawah, sudah siap habis makan, cepat-cepat mulai membagi-bagi tempat.

Pupuh XIX
  1. Paginya berangkat lagi menuju Baya, rehat tiga hari tiga malam, dari Baya melalui Katang, Kedung Dawa, Rame, menuju Lampes Times, serta biara pendeta di Pogara mengikut jalan pasir lemak-lembut, menuju daerah Beringin Tiga di Dadap, kereta masih terus lari.
  2. Tersebut dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan indah, tanahnya anugerah Sri Baginda kepada Gajah Mada, teratur rapi, di situlah Baginda menempati pesanggrahan yang terhias bergas, sementara mengunjungi mata air, dengan ramah melakukan mandi bakti.

Pupuh XX

  1. Sampai di desa kasogatan Baginda dijamu makan minum, pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar, WePeteng, yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.
  2. Begitu pula desa Tinggilis, Pabayeman ikut berkumpul, termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan, itulah empat belas desa kasogatan yang berakuwu, sejak dahulu delapan saja yang menghasilkan makanan.

Pupuh XXI
  1. Fajar menyingsing ; berangkat lagi Baginda melalui Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang serta Kasaduran Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawiyungan
  2. Menuruni lurah, melintasi sawah, lari menuju Jaladipa, Talapika, Padali, Arnon dan Panggulan Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah kota Rembang Sampai di Kemirahan yang letaknya di pantai lautan

Pupuh XXII
  1. Di Dampar dan Patunjungan Sri Baginda bercengkerama menyisir tepi lautan Ke jurusan Timut, turut pasisir datar, lembut-limbur dilintas kereta Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya
  2. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan Danau ditinggalkan, menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwija sejak dulu kala Seperti juga Patunjungan, akibat perang, belum kembali ke asrama
  3. Terlintas tempat tersebut, ke Timur mengikut hutan sepanjang tepi lautan Berhenti di Palumbon berburu sebentar, berangkat setelah surya larut Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi
  4. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam Malam berganti malam, Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan Sepeninggalnya beliau menjelang kota Bacok bersenang-senang di pantai Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti hujan
  5. Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan Dari Sadeng ke Utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet Galagah, Tampaling, beristirahat di Renes seraya menanti Baginda Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta-Wanagriya

Pupuh XXIII

  1. Melalui Doni Bontong, Puruhan, Bacek Pakisaji, Padangan terus ke Secang Terlintas Jati Gumelar, Silabango Ke Utara ke Dewa Rame dan Dukun.
  2. Lalu berangkat lagi ke Pakembangan Di situ bermalam ; segera berangkat Sampailah beliau ke ujung lurah Daya Yang segera dituruni sampai jurang.
  3. Dari pantai ke Utara sepanjang jalan Sangat sempit, sukar amat dijalani Lumutnya licin akibat kena hujan Banyak kereta rusak sebab berlanggar.

Pupuh XXIV
  1. Terlalu lancar lari kereta melintas Palayangan Dan Bangkong, dua desa tanpa cerita, terus menuju Sarana, mereka yang merasa lelah ingin berehat Lainnya bergegas berebut jalan menuju Surabasa
  2. Terpalang matahari terbenam berhenti di padang lalang Senja pun turun, sapi lelah dilepas dari pasangan Perjalanan membelok ke Utara melintas Turayan Beramai-ramai lekas-lekas ingin mencapai Patukangan

Pupuh XXV
  1. Panjang lamun dikisahkan kelakukan para mentri dan abdi Beramai-ramai Baginda telah sampai di desa Patukangan Di tepi laut lebar tenang rata terbentang di Barat Talakrep Sebelah Utara Pakuwuan pesanggrahan Baginda Nata
  2. Semua menteri, mancanegara hadir di Pakuwuan Juga jaksa Pasungguhan Sang Wangsadiraja ikut menghadap Para Upapatti yang tanpa cela, para pembesar agama Panji Siwa dan Panji Budha, faham hukum dan putus sastera

Pupuh XXVI
  1. Sang adipati Suradikara memimpin upacara dan sambutan Diikuti segenap penduduk daerah wilayah Patukangan Menyampaikan persembahan, girang bergilir dianugerahi kain Girang rakyat girang raja, pakuwuan berlimpah kegirangan
  2. Untuk pemandangan ada rumah dari ujung memanjang ke lautan Aneka bentuknya, rakit halamannya, dari jauh bagai pulau Jalannya jembatan goyah kelihatan bergoyang ditempuh ombak Itulah buatan Sang Arya bagai persiapan menyambut raja.

Pupuh XXVII

  1. Untuk mengurangi sumuk akibat teriknya matahari Baginda mendekati permaisuri seperti dewa-dewi Para puteri laksana apsari turun dari kahyangan
  2. Hilangnya keganjilan berganti pandang penuh heran-cengang Berbagai-bagai permainan diadakan demi kesukaan
  3. Berbuat segala apa yang membuat gembura penduduk Menari topeng, bergumul, bergulat, membuat orang kagum Sungguh beliau dewa menjelma, sedang mengedari dunia.

Pupuh XXVIII

  1. Selama kunjungan di desa Patukangan Para menteri dari Bali dan Madura Dari Balumbung, kepercayaan Baginda Menteri seluruh Jawa Timur berkumpul
  2. Persembahan bulu bekti bertumpah-limpah Babi, gudel, kerbau, sapi, ayam dan anjing
  3. Bahan kain yang diterima bertumpuk timbun Para penonton tercengang-cengang, memandang
  4. Tersebut keesokan hari pagi-pagi Baginda keluar di tengah-tengah rakyat Diiringi para kawi serta pujangga Menabur harta, membuat gembira rakyat

Pupuh XXIX
  1. Hanya pujangga yang menyamar Prapanca sedih tanpa upama Berkabung kehilangan kawan kawi-Budha Panji Kertayasa Teman bersuka-ria, teman karib dalam upacara ‘gama
  2. Beliau dipanggil pulang, sedang mulai menggubah karya megah Kusangka tetap sehat, sanggup mengantar aku kemana juga
  3. Beliau tahu tempat-tempat mana yang layak pantas dilihat Rupanya sang pujangga ingin mewariskan karya megah indah
  4. Namun mangkatlah beliau, ketika aku tiba, tak terduga Itulah lantarannya aku turut berangkat ke desa Keta Meliwati Tal Tunggal, Halalang-panjang, Pacaran dan Bungatan Sampai Toya Rungun, Walanding, terus Terapas, lalu bermalam Paginya berangkat ke Lemah Abang, segera tiba di Keta

Perpustakaan Nasional RI, pada tanggal 21 Pebruari 2008 mendapatkan penghargaan dari UNESCO tentang koleksi Nagara Kretagama atau deskripsi suatu negara pada tahun 1365 masehi, yang terdaftar dalam The Memory of the World Regional Register for Asia/Pacific.

Dengan adanya penghargaan tersebut kita sebagai bangsa Indonesia merasa bangga atas kejayaan para leluhur.

LAMBANG MAJAPAHIT

Surya Majapahit (Matahari Majapahit) adalah lambang kerajaan Majapahit yang kerap kali dapat ditemukan pada reruntuhan bangunan-bangunan (candi-candi) peninggalan Majapahit.

La
mbang ini mengambil bentuk matahari bersudut delapan, dengan bagian lingkaran di tengahnya yang menampilkan pahatan dewa-dewa agama Hindu yang terkenal. Lambang ini membentuk lingkaran kosmologis, yang disinari dengan jurai matahari khas "Surya Majapahit" atau lingkaran Matahari dengan bentuk jurai sinarnya yang khas, sehingga para ahli purbakala menduga lambang ini merupakan lambang kerajaan Majapahit.

GAJAH MADA

Gajah Mada ialah Mahapatih Majapahit yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Gajah Mada diperkirakan lahir pada tahun 1300 di lereng pegunungan Kawi - Arjuna, daerah yang kini dikenal sebagai kota Malang (Jawa Timur). Sejak kecil, Gajah Mada sudah menunjukkan kepribadian yang baik, kuat dan tangkas. Kecerdasannya telah menarik hati seorang patih Majapahit yang kemudian mengangkatnya menjadi anak didiknya, Beranjak dewasa terus menanjak karirnya hingga menjadi Kepala (bekel) Bhayangkara (pasukan khusus pengawal raja). Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Ra Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.


Memadamkan Pembrontakan Ra Kuti

Gajah Mada adalah seorang mahapatih kerajaan Majapahit yang didaulat oleh para ahli sejarah Indonesia sebagai seorang pemimpin yang telah berhasil menyatukan nusantara. Sumber-sumber sejarah yang menjadi bukti akan hal ini banyak ditemukan diberbagai tempat. Di antaranya di Trowulan, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dahulu pernah menjadi ibu kota kerajaan Majapahit. Kemudian di Pulau Sumbawa, di mana sebuah salinan kitab Negara Kertagama di temukan. Prasasti dan candi adalah peninggalan-peninggalan masa lalu yang menjadi bukti lain pernah jayanya kerajaan Majapahit di bawah pimpinan mahapatih Gajah Mada.
peristiwa pemberontakan yang paling berdarah pada masa pemerintahan Sri Jayanegara, raja Majapahit yang kedua. Pemberontakan yang dilakukan oleh Dharmaputra Winehsuka di bawah pimpinan Ra Kuti - rekan Gajah Mada dalam keprajuritan - sampai mampu melengserkan sang prabu Jayanegara dari singgasananya untuk sementara dan mengungsi ke pegunungan kapur utara, sebuah daerah yang diberi nama Bedander.

Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Banyak, Ra Wedeng, dan Ra Yuyu pada mulanya adalah prajurit-prajurit yang dianggap berjasa kepada negara. Oleh karenanya sang prabu Jayanegara memberikan gelar kehormatan berupa Dharmaputra Winehsuka kepada kelima prajurit tersebut. Entah oleh sebab apa, mereka, dipimpin oleh Ra Kuti melakukan makar mengajak pimpinan pasukan Jala Rananggana untuk melakukan pemberontakan terhadap istana. Pada waktu itu Majapahit memiliki tiga kesatuan pasukan setingkat divisi yang dinamakan Jala Yudha, Jala Pati, dan Jala Rananggana. Masing-masing kesatuan dipimpin oleh perwira yang berpangkat tumenggung.
Gajah Mada, pada waktu itu masih menjadi seorang prajurit berpangkat bekel. Pangkat bekel dalam keperajuritan pada saat itu setingkat lebih tinggi dari lurah prajurit, namun masih setingkat lebih rendah dari Senopati. Pangkat di atas senopati adalah tumenggung, yang merupakan pangkat tertinggi.

Gajah Mada membawahi satu kesatuan pasukan setingkat kompi yang bertugas menjaga keamanan istana. Nama pasukan ini adalah Bhayangkara. Jumlahnya tidak lebih dari 100 orang, namun pasukan Bhayangkara ini adalah pasukan khusus yang memiliki kemampuan di atas rata-rata prajurit dari kesatuan mana pun.
Informasi tentang adanya pemberontakan tersebut diperoleh dari seseorang yang memberitahu Gajah Mada akan adanya bahaya yang akan datang menyerang istana pada pagi hari. Tidak dijelaskan siapa dan atas motif apa seseorang tersebut memberikan informasi tersebut kepada Gajah Mada. Satu hal yang cukup jelas bahwa orang tersebut mengetahui rencana makar dan kapan waktu dilakukan makar tersebut menandakan bahwa informan tersebut memiliki hubungan yang cukup dekat dengan pihak pemberontak.

Mendapatkan informasi tersebut Gajah Mada segera melakukan koordinasi dengan segenap jajaran telik sandi yang dimiliki pasukan Bhayangkara, tidak ketinggalan terhadap telik sandi pasukan kepatihan. Saat itu mahapatih masih dijabat oleh Arya Tadah, yang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Gajah Mada.
Gajah Mada juga melakukan langkah koordinasi kekuatan terhadap tiga kesatuan pasukan utama Majapahit dengan cara menghubungi masing-masing pimpinannya. Tidak mudah bagi seorang bekel untuk bisa melakukan hal ini karena ia harus bisa menemui para Tumenggung yang berpangkat dua tingkat di atasnya. Namun, Arya Tadah yang tanggap akan adanya bahaya, telah membekali Gajah Mada dengan lencana kepatihan, sebuah tanda bahwa Gajah Mada mewakili dirinya dalam melaksanakan tugas tersebut.

Dua dari tiga pimpinan pasukan berhasil dihubungi. Namun keduanya menyatakan sikap yang berlainan. Pasukan Jala Yudha bersikap mendukung istana, sedangkan pasukan Jala Pati memilih bersikap netral. Pimpinan pasukan Jala Rananggana tidak berhasil ditemui karena pada saat itu kesatuan pasukan tersebut telah mempersiapkan diri di suatu tempat yang cukup jauh dari istana untuk mengadakan serangan dadakan keesokan harinya. Yang selanjutnya terjadi adalah perang besar yang melibatkan ketiga kesatuan utama pasukan Majapahit. Akhirnya peperangan tersebut dimenangkan oleh pihak pemberontak, dan memaksa sang Prabu Jayanegara mengungsi ke luar istana dilindungi oleh segenap kekuatan pasukan Bhayangkara.

Namun, tidak seluruh anggota pasukan Bhayangkara memihak raja. Hal ini tentu menyulitkan tindakan penyelamatan sang prabu karena setiap saat di mana saja, musuh dalam selimat bisa bertindak mencelakai sang prabu. Hal ini yang mendorong Gajah Mada melakukan tindakan penyelamatan yang rumit sampai membawa sang prabu ke Bedander, sebuah daerah di pegunungan kapur utara.

Dengan kecerdikannya, memanfaatkan kekuatan dan jaringan yang dimiliki, akhirnya Gajah Mada berhasil mengembalikan sang prabu ke istana. Prabu Sri Jayanegara memang selamat dari kejaran Ra Kuti dan pengikut-pengikutnya. Namun, sembilan tahun kemudian, salah seorang Dharmaputra Winehsuka yang telah diampuni dari kesalahan akibat terlibat dalam pemberontakan tersebut, melakukan tindakan yang sama sekali tidak terduga: meracun sang prabu sampai mengakibatkan wafatnya beliau.


Memadamkan Pemberontakan Sadeng

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Aryo Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta & Sadeng pun akhirnya takluk. Patih Gajah Mada kemudian diangkat secara resmi oleh Ratu Thribhuwana Tunggadewi sebagai Rakryan Patih Majapahit (1334).

Pada acara pelatikannya sebagai Patih Majapahit, Gajah Mada mengucapkan janji baktinya sambil mengacungkan kerisnya bernama Surya Panuluh yang sebelumnya adalah milik Dyah Kertarajasa Jayawardhana, Raja Pendiri Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan Sumpah Palapa.

Sumpah Palapa adalah pengumuman resmi tentang program politik pemerintahan yang akan dijalankan oleh Patih Gajah Mada dibawah kepemimpinan Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton yaitu ia baru akan menikmati palapa atau rempah-rempah yang diartikan kenikmatan duniawi jika telah berhasil menaklukkan Nusantara., yang berbunyi,

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".
Terjemahannya,

Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Beliau Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".
Dari isi naskah ini dapat diketahui bahwa pada masa diangkatnya Gajah Mada, sebagian wilayah Nusantara yang disebutkan pada sumpahnya belum dikuasai Majapahit.

Arti nama-nama tempat
  • Gurun = Nusa Penida
  • Seran = Seram
  • Tañjung Pura = Kerajaan tangjung Pura, Ketapang, Kalimantan Barat
  • Haru = Sumatra Utara (ada kemungkinan merujuk kepada Karo)
  • Pahang = Pahang di Semenanjung Melayu
  • Dompo = Kabupaten Dompu
  • Bali = Bali
  • Sunda = Kerajaan Sunda
  • Palembang = Palembang atau Sri Wijaya
  • Tumasik = Singapura

Sumpah Palapa tersebut sangat menggemparkan para undangan yang hadir dalam pelantikan Gajah Mada sebagai patih Amangku bumi. Ra Kembar mengejek Gajah Mada sambil mencaci maki, undangan yang lain turut serta mengejek, Jabung Tarewes dan Lembu Peteng tertawa terpingkal pingkal. Gajah Mada yang merasa terhina akhirnya turun dari paseban menghadap kaki sang Ratu dan berkata bahwa hatinya sangat sedih dengan penghinaan tersebut. Akhirnya setelah acara tersebut Gajah Mada kemudian menyingkirkan Ra Kembar untuk membalaskan dendamnya karena mendahului mengepung Sadeng. Sumpah Palapa tersebut diucapkan dengan kesungguhan hati oleh Gajah Mada , oleh karena itu ia sangat marah ketika ditertawakan.

Program politik yang dijalankan oleh Gajah Mada berbeda dengan yang dijalankan oleh Prabu Kertarajasa dan Prabu Jayanagara dimana dalam masa pemerintahan ke dua tokoh tersebut para menteri kebanyakan diambil dari orang orang yang terdekat yang dianggap berjasa oleh kedua tokoh tersebut. Dan ketika orang orang kepercayaan tersebut melakukan pemberontakan maka pemerintahan tersebut hanya disibukkan oleh pembasmian pemberontakan sehingga mereka tidak berkesempatan untuk menjalankan politik untuk mengembangkan wilayah kerajaan.

Demikianlah Gajah Mada dalam menjalankan Politik Nusantaranya para pejabat – pejabat yang dahulu mengejek dan menertawakannya disingkirkan satu persatu. Ra Kembar dan Warak yang mengejeknya habis habisan kemudian disingkirkan.

Dengan adanya Sumpah Amukti Palapa, maka Gajah Mada bercita-cita mempersatukan wilayah Nusantara di bawah kekuasaan Majapahit. Sehingga untuk mewujudkan sumpah tersebut, pasukan Majapahit yang dipimpin Gajah Mada dan dibantu oleh Adityawarman melakukan politik ekspansi/penyerangan keberbagai daerah dan berhasil. Atas jasanya Adityawarman diangkat menjadi Raja Melayu tahun 1347 untuk menanamkan pengaruh Majapahit di Sumatera. Walaupun ada sejumlah orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada berhasil menaklukkan Nusantara. Daerah Daerah yang dikuasai Majapahit dibawah Patih Gajah Mada antara lain :

Bedahulu (Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Driwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Dengan konsep persatuannya ini, berbuah pada meredanya pertumpahan darah antar kerajaan-kerajaan tersebut yang semula selalu saling mengintai dan berupaya saling menguasai melalui jalan peperangan yang menimbulkan banyak korban terutama terhadap rakyat masing-masing dapat dihindari dengan pengayoman Majapahit dan semboyan bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, diantara kerajaan-kerajaan tersebut kemudian bisa menjadi lebih menekankan perhatiannya kepada upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemajuannya sendiri maupun bersama-sama. Selain itu juga menjadi lebih kuat menghadapi ancaman penjajah asing (Tiongkok/Tartar), menggantinya menjadi hubungan kerjasama dagang dan budaya yang saling menguntungkan masing-masing pihak.

Beberapa Catatan tentang Keberhasilan Patih Gajah Mada sebagai berikut :
  1. Memadamkan pemberontakan : Ra Kuti
  2. Keberhasilannya mengawal terjadinya peralihan kekuasaan saat mangkatnya Jayanegara. Keadanaan istana genting,dan para Ratu ( Tribhuaneswari, Narendraduhita, Pradnya Paramita, Dyah Dewi Gayatri dan Dara Petak ) bingung karena tidak ada lagi penerus laki-laki. Saat itu merupakan masa sulit karena penuh intrik, terutama karena ada perseteruan antara Cakradara dan Kudamerta.
  3. Memadamkan pemberontakan Sadeng pada tahun 1331,sehingga membuat AryaTadah (Patih Majapahit) harus merelakan menyerahkan jabatannyakepada Gajah Mada. Sumpah Amukti Palapa,yang berhasil mempersatukan Nusantara sampai Philipina bag.selatan
  4. Menerbitkan Kitab Hukum Kerajaan Majapahit.
    Selain sebagai negarawan, Gajah Mada terkenal pula sebagai ahli hukum. Kitab hukum yang ia susun sebagai dasar hukum di Majapahit adalah Kutaramanawa, berdasarkan kitab hukum Kutarasastra (lebih tua) dan kitab hukum Hindu Manawasastra, serta disesuaikan dengan hukum adat yang berlaku.
    Arca Gajah Mada
Walaupun usianya terbilang muda untuk menggantikan posisi sebagai Majapahit, namun tidak seorang pun yang meragukan pengabdian dan kesetiaan Gajah Mada terhadap raja dan negaranya. Dimulai dari tindakan heroiknya menyelamatkan sang prabu dari kejaran para pengikut pemberontak Ra Kuti, kemudian membalikkan keadaan dan mengembalikan sang prabu ke singgasananya. Atas kepemimpinan Gajah Mada pula, persaingan politik perebutan takhta antara dua satria pendamping para putri kedaton bisa diredam, sehingga pergantian kekuasaan setelah mangkatnya prabu Sri Jayanegara bisa berlangsung mulus.

Mengenai Keta dan Sadeng, diceritakan bahwa kedua wilayah bagian Majapahit tersebut berniat memisahkan diri dari kerajaan Majapahit dan melakukan persiapan serius. Diantaranya adalah melakukan perekrutan besar-besaran terhadap warga sipil untuk dididik keprajuritan di tengah hutan Alas Larang. Tujuannya adalah memperkuat angkatan perang kedua wilayah tersebut, yang pada akhirnya akan dibenturkan terhadap kekuatan perang Majapahit. Gajah Mada berpendapat bahwa sebisa mungkin perang dengan Keta-Sadeng diselesaikan secara psikologis dengan mengadakan provokasi dan adu domba antar kekuatan internal Keta-Sadeng. Bahkan kalau perlu melakukan penculikan terhadap para pemimpin yang menggerakkan perang tersebut. Tujuan akhirnya adalah menyelesaikan konflik Keta-Sadeng dengan biaya kecil-kecilnya.

Dilihat dari kekuatan gelar pasukan, kekuatan Keta-Sadeng bukanlah apa-apa dibanding dengan kekuatan pasukan Majapahit. Namun, dibalik kekuatan fisik pasukan segelar sepapan yang belum sebanding dengan pasukan Gajah Mada, Keta-Sadeng dilindungi oleh kesatria mumpuni yang sakti mandraguna. Ksatria ini adalah mantan pelindung Raden Wijaya, raja Majapahit yang pertama. Nama ksatria tersebut adalah Wirota Wiragati, terkenal dengan kesaktiannya memiliki ajian sirep, ajian panglimunan, dan kekuatan untuk mendatangkan kabut yang bisa menyulitkan daya penglihatan pasukan mana pun. Namun, dengan kecerdikan Gajah Mada yang disalurkan ke setiap elemen pasukan Bhayangkara yang disusupkan sebagai telik sandi ke wilayah Keta dan Sadeng, akhirnya tujuan Gajah Mada untuk mengakhiri perang Keta-Sadeng dengan biaya minimal akhirnya tercapai.

Setelah menuntaskan tugas pemadaman pemberontakan Keta-Sadeng, akhirnya Gajah Mada siap untuk didaulat menjadi mahapatih menggantikan Arya Tadah. Dalam sidang penunjukkannya sebagai mahapatih itulah Gajah Mada mengucapkan sumpahnya yang terkenal: Hamukti Palapa. Pada saat itu, Majapahit juga menjalin hubungan dengan kerajaan Swarnabhumi, di pulau Sumatra. Kedatangan raja Swarnabhumi – Adityawarman - ke Majapahit digambarkan menggunakan kapal perang berukuran besar yang belum ada tandingannya dari kesatuan pasukan laut Majapahit.

Adityawarman sendiri adalah saudara sepupu mendiang prabu Sri Jayanegara, sekaligus sahabat yang cukup dekat dengan Gajah Mada. Penggambaran besarnya ukuran kapal perang dari Swarnabhumi agaknya dimaksudkan sebagai cikal bakal adopsi teknologi yang menjadikan besarnya armada laut Majapahit kelak ketika penyatuan nusantara dimulai.

Perang Bubat
Perang Bubat" ini mengambil asumsi perang itu terjadi. Perang yang merupakan lembaran hitam dari sejarah kebesaran Majapahit. Perang yang merupakan lembaran hitam juga bagi karir politik mahapatih Gajah Mada. Perang yang akhirnya memaksa Gajah Mada turun dari kedudukannya sebagai mahapatih Majapahit. Sumber adanya perang bubat diperoleh dari buku Pararaton, sebuah karya sastra yang berisi cerita peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kerajaan Singasari dan Majapahit. Buku lain yang juga banyak menceritakan peristiwa sejarah pada masa yang sama, yaitu buku Negara Kertagama, tidak sekali pun menyebutkan adanya peristiwa perang bubat ini.Dua puluh tahun sejak Gajah Mada mengikrarkan sumpah Palapa-nya yang terkenal. Majapahit telah menjelma menjadi kerajaan besar yang menguasai nusantara dan perairannya.

Dengan armada lautnya yang sangat besar, yang dipimpin oleh laksamana Nala, Gajah Mada telah berhasil mewujudkan cita-citanya mengajak kerajaan-kerajaan di Nusantara bersatu di bawah kekuasan Majapahit. Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara bersatu salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tar Tar yang hendak memperlebar wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan.

Wilayah nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tar Tar.Dari mulai Tumasek (Singapura), Tanjungpura, Bali, Dompo, hingga Seram seluruh penguasanya menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Tetapi di kala semua kerajaan yang letaknya relatif jauh sudah menyatakan tunduk, ada dua kerajaan yang sangat dekat bahkan seperti di halaman rumah sendiri, belum menyatakan tunduk. Dua kerajaan tersebut adalah Sunda Galuh yang berpusat di Galuh (sekarang berada di sekitar Ciamis), dan Sunda Pakuan yang terletak lebih ke arah barat.

Sebagai sebuah kerajaan yang sudah sangat kuat pada saat itu maka Majapahit dapat saja menundukkan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran), namun Sang Mapatih lebih memilih menghindari kekerasan dan pertumpahan darah Kerajaan Sunda Galuh saat itu dipimpin oleh seorang raja yang bernama prabu Lingga Buana. Di sebelah timur, wilayah Sunda Galuh berbatasan langsung dengan wilayah Majapahit di sepanjang sungai Pamali. Sedangkan di sebelah barat, wilayah Sunda Galuh berbatasan langsung dengan wilayah Sunda Pakuan di sepanjang sungai Citarum. Pandangan Gajah Mada untuk sesegera mungkin menyatukan kedua kerajaan Sunda tersebut ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit, bertentangan dengan pandangan kalangan istana. Baik ibu suri Tribhuana Tunggadewi maupun Dyah Wyah berpendapat bahwa kerajaan Sunda adalah kerabat sendiri, karena apabila dilihat dari silsilah keluarganya, salah satu leluhurnya berasal dari bangsawan Sunda.

Sementara sikap prabu Hayam Wuruk sendiri terlihat lebih mendukung kedua ibu suri tersebut daripada Gajah Mada. Seiring dengan perjalanan waktu Sang Dyah Hayam Wuruk Sri Rajasanagara (Raden Tetep) telah beranjak dewasa Pada suatu waktu tibalah saatnya bagi prabu Hayam Wuruk untuk mencari seorang permaisuri yang akan mendampingi dirinya. Maka dikirimlah beberapa juru gambar untuk melukis putri-putri yang cantik dari kalangan kerajaan bawahan maupun kerajaan tetangga untuk kemudian diperlihatkan kepada sang prabu. Dengan harapan apabila ada salah satu gambar yang berkenan di hati sang prabu, maka tibalah saatnya bagi sang prabu untuk menjatuhkan pilihannya kepada putri yang beruntung tersebut. Sudah sekian banyak juru gambar yang kembali membawa lukisannya, namun sang prabu Hayam Wuruk masih belum berkenan menjatuhkan pilihannya. Sampai tibalah saatnya dikirim juru gambar ke kerajaan Sunda Galuh untuk menggambar putri Dyah Pitaloka Citraresmi yang kabar kecantikannya sudah terkenal ke mana-mana.

Sementara itu, Gajah Mada melihat adanya kesempatan untuk membawa kepentingannya sendiri ke dalam utusan juru gambar Majapahit ke Sunda Galuh. Kemudian Gajah Mada menyusupkan beberapa orang bawahannya untuk pergi bersama-sama ke kerajaan Sunda Galuh menyampaikan maksud Gajah Mada agar kerajaan Sunda Galuh segera menyatakan tunduk di bawah kekuasaan Majapahit. Sekembalinya utusan tersebut, prabu Hayam Wuruk ternyata berkenan dengan kecantikan putri Dyah Pitaloka dan berniat menjadikannya sebagai permaisuri. Maka diberangkatkan rombongan utusan kedua yang membawa berbagai macam keperluan untuk meminang putri tersebut sekaligus membicarakan kapan dan di mana pesta perkawinan antara raja dan putri akan dilangsungkan.

Akhirnya disepakati bersama bahwa raja Lingga Buana, permaisuri, dan beberapa bangsawan istana akan berangkat ke Majapahit untuk mengantarkan putri Dyah Pitaloka sekaligus melangsungkan acara pesta perkawinan di ibu kota Majapahit. Maka pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah prabu Lingga Buana beserta rombongan ke Majapahit. Tidak terlalu banyak pasukan yang mengiringi mereka mengingat maksud dan tujuan sang prabu ke Majapahit adalah untuk menikahkan putrinya, Dyah Pitaloka.

Perjalanan jauh mereka tempuh dari Galuh (Ciamis) menuju ke ibu kota Majapahit (Trowulan). Sesampainya rombongan tersebut di lapangan bubat, tanpa terduga rombongan tersebut dicegat oleh utusan Gajah Mada yang menyampaikan maksud Gajah Mada agar putri Dyah Pitaloka diserahkan ke kerajaan Majapahit sebagai persembahan, tanda bahwa Sunda Galuh tunduk dibawah kekuasaan Majapahit. Namun rombongan sunda bersikeras agar Raja Majapahit harus turun sendiri menjemput pengantin dan rombongannya di daerah tersebut.

Sang Mapatih dihadapkan pada dilema, baik menerima maupun menolak persyaratan itu sama-sama akan membahayakan jalinan persatuan Nusantara yang sudah dengan susah payah dibangunnya sebelum ini. Sebuah persatuan yang pada masa itu dapat dipertahankan diatas wibawa Sang Penguasa Kerajaan Majapahit. Para raja lain dibawah kekuasaan Majapahit akan membaca peristiwa tersebut sebagai isyarat melemahnya kerajaan besar tersebut oleh kepemimpinan Sang Raja yang masih muda itu. Ini berarti akan berkobarnya kembali perang karena pemberontakan dari kerajaan-kerajaan dibawah Majapahit. Akhirnya perang mulut tak dapat dihindari, keduabelah pihak sama sama mempertahankan pendiriannya masing masing dan tidak mau mengalah. Prabu Lingga Buana merasa harga dirinya terinjak-injak dengan perlakuan Gajah Mada tersebut, namun sebagai seorang pemimpim yang arif sang prabu tidak bertindak gegabah untuk dengan serta merta mengadakan perlawanan di tempat.

Namun kearifan hati sang prabu tidak diikuti oleh segenap anak buahnya. Dalam situasi demikian, setiap orang yang berada dalam rombongan tersebut pasti merasa marah dan dilecehkan. Satu lesatan anak panah, entah terlepas dari busur siapa melaju menerjang utusan Gajah Mada tersebut hingga ambruk. Suasana pun menjadi tidak terkendali.

Perang pun tidak terlelakkan lagi terjadi di lapangan bubat. Rombongan pasukan Sunda Galuh yang tidak siap berperang terpaksa harus menghunus pedang dan merentangkan gendewa menghadapi pasukan Majapahit yang juga sebenarnya tidak siap untuk berperang. Kalah jumlah dan berada dalam lokasi yang salah akhirnya seluruh anggota rombongan pasukan Sunda Galuh pun gugur di lapangan bubat, termasuk prabu Lingga Buana dan permaisurinya. Putri Dyah Pitaloka pun akhirnya bunuh diri. Akibat dari peristiwa tersebut prabu Hayam Wuruk akhirnya mencopot jabatan Gajah Mada dari mahapatih Majapahit yang selama ini disandangnya.



Air terjun di daerah Madakaripura di yakini sebagai tempat Gajah Mada mengasingkan diri setelah peristiwa Bubat.
Gajah Mada memiliki kekuasaan yang sangat besar, bahkan melebihi kekuasaan sang prabu sendiri. Boleh dikata jalannya roda pemerintahan berada di bawah kendali Gajah Mada. Sedangkan sang prabu hanya duduk manis di atas dampar dan menerima laporan dan hasilnya saja. Langkah pencopotan Gajah Mada tentunya bisa menimbulkan gejolak politik yang sangat besar yang bahkan bisa menimbulkan adanya perang.
Perang saudara antara prajurit Majapahit yang mendukung dan menentang Gajah Mada hampir terjadi setelah peristiwa bubat. Penentang Gajah Mada berasal dari orang-orang yang marah akibat kehendak rajanya untuk segera memiliki permaisuri gagal, bahkan calon permaisuri - putri Sunda Galuh dan keluarganya - akhirnya dibantai beserta seluruh pengiringnya di lapangan bubat. Sedangkan pendukung Gajah Mada kebanyakan berasal dari pasukan dan orang-orang yang selama ini dengan setia berada di belakangnya.
Gajah Mada sendiri memandang peristiwa bubat bukanlah kesalahan dirinya, dan bukan pula kesalahan Majapahit. Gajah Mada mengungkapkan bahwa selama ini sikap dan pandangan Majapahit terhadap kerajaan-kerajaan lain yang tersebar di seluruh penjuru nusantara sudah jelas. Majapahit menempatkan diri sebagai pemimpin dan pengayom wilayah nusantara, dan kerajaan lain harus satu kata dengan Majapahit. Dengan kata lain kerajaan-kerajaan lain harus tunduk kepada Majapahit.

Sikap Majapahit tersebut tidak boleh dibeda-bedakan, pun terhadap dua kerajaan Sunda yang letaknya di sebelah barat pulau Jawa. Pandangan Gajah Mada yang demikian tidak sejalan dengan sang prabu dan keluarganya. Gajah Mada lebih memandang tunduknya dua kerajaan Sunda di wilayah barat tersebut mesti diberlakukan sama dengan tunduknya kerajaan-kerajaan lain, kalau perlu dengan kekuatan militer. Sedangkan sang prabu dan keluarga lebih memilih jalan damai.

Jalan damai tersebut salah satunya adalah dengan berbesanan dengan keluarga kerajaan Sunda Galuh. Alasan Gajah Mada mengajak kerajaan-kerajaan di seluruh nusantara bersatu salah satunya adalah untuk menggalang kekuatan melawan pasukan dari kerajaan Tar Tar yang hendak memperlebar wilayah kekuasaannya sampai ke arah selatan. Wilayah nusantara yang sebagian besar terdiri atas perairan mendorong Majapahit memperkuat armada lautnya. Armada laut inilah yang setiap hari berpatroli di dalam wilayah laut nusantara melindungi kapal-kapal dagang yang melintas, sekaligus membentengi wilayah nusantara dari kemungkinan serbuan bangsa Tar Tar.

Pandangan keras Gajah Mada berujung pada kesalahan pengelolaan keadaan sehingga terjadi perang bubat. Raja Sunda Galuh dan seluruh pengiringnya tewas dibantai di lapangan bubat, termasuk calon permaisuri sang prabu. Gajah Mada yang kemudian dicopot dari jabatan mahapatih menjadi orang biasa, akhirnya memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di sebuah tempat untuk bertapa dan mawas diri. Tempat pertapaan Gajah Mada tersebut terletak di kaki gunung Bromo, di sebuah wilayah yang disebut Sapih. Sampai saat ini, tempat tersebut lebih terkenal dengan sebutan Madakaripura.

Peristiwa bubat tidak menyebabkan kerajaan Sunda Galuh merasa perlu untuk membangun kekuatan militer dan menyerang kerajaan Majapahit. Orang-orang Sunda Galuh cinta damai. Walaupun demikian, secara individu beberapa orang yang setia kepada raja Sunda Galuh yang terbantai di lapangan bubat, memutuskan untuk membalas dendam secara sembunyi-sembunyi. Mereka kemudian membentuk satu kelompok penari tayub yang diberangkatkan ke Majapahit dengan sasaran bidik yang sudah jelas, yaitu Gajah Mada.

Gerakan senyap dan samar yang dilakukan orang-orang Sunda ini langsung menusuk ke lingkungan istana Majapahit. Persiapan yang sangat matang dan teliti adalah kunci keberhasilan gerakan tersebut. Setiap anggota kelompok ini sudah pasti mahir berbahasa Jawa dan menguasai kesenian Jawa. Pagelaran tari tayub pun di selenggarakan di dekat markas prajurit Majapahit, dengan tujuan untuk menggaet beberapa prajurut Majapahit pilihan, dan mengubahnya untuk dijadikan eksekutor lapangan yang nantinya akan memburu Gajah Mada.

Kecantikan dan gemulainya gerakan penari sunda adalah senjata utama mereka. Tujuan tersebut hamper berhasil mereka capai. Seorang prajurit pilihan Majapahit berpangkat lurah, yang dulunya menjadi pengawal setia Gajah Mada, yang juga pemimpin prajurit pelindung istana kepatihan akhirnya masuk perangkap namun Gajah Mada tidak berhasil mereka singkirkan.

Wafatnya Patih Gajah Mada
Dalam Pararaton dikisahkan setelah peristiwa Bubat, Patih Gajah Mada Mukti Palapa yaitu kepergian Gajah Mada dari kepatihan dan melaksanakan pengembaraan untuk menghindari kemarahan Prabu Hayam Wuruk dan keluarga kerajaan lainnya. Namun pengembaraan tersebut tidak berlangsung lama , pada tahun saka 1281 atau tahun masehi 1359 patih Gajah Mada ikut serta dalam kunjungan Prabu Hayam Wuruk ke daerah Lumajang. Peristiwa tersebut tercatat dalam kitab NegaraKertagama pupuh 18/2. Pada Tahun saka 1284 Prabu Hayam Wuruk mengadakan upacara Srada yaitu penghormatan untuk Gayatri, Gajah Mada sebagai patih Amangku bumi tampil kemuka mempersebahkan arca putri cantik yang sedang bersedih berlindung dibawah gubahan Nagapuspa yang melilit Rajasa.

Selanjutnya dalam pararaton dikisahkan perkawinan Prabu Hayam Wuruk dengan Paduka Sori setelah peristiwa Bubat dimaksudkan untuk menghibur Prabu Hayam Wuruk yang menderita kepedihan akibat kegagalan perkawinannnya dengan Dyah Pitaloka dari kerajaan Pasudan. Setelah perkawinan tersebut keadaan menjadi reda, kemarahan Prabu hayam Wuruk dengan Patih Gajah Mada menjadi berkurang dan kelanjutan pemerintahan menjadi prioritas yang lebih diutamakan. Dalam masa jabatan ke dua Gajah Mada sebagai patih Amangku Bumi tidak terdapat sejarah yang berkaitan dengan gagasan Nusantara. Mungkin sekali setelah peristiwa Bubat Gajah Mada sudah merasa letih, tua dan Kecewa.

Gajah Mada sudah merasa puas karena gagasan Nusantaranya telah dapat dilaksanakan lebih luas dari pada sumpah Palapa yang pernah diucapkan. Suatu kenyataan bahwa Gajah Mada tidak bergerak seaktif ketika masa jabatan patih Amangku Bumi yang pertama. Dalam masa jabatan ke dua sebagai patih Amangku Bumi lebih banyak dilaksanakan kunjungan ke daerah daerah oleh Prabu Hayam Wuruk, Dalam Nagarakretagama pupuh 17 kunjungan tersebut diantaranya :
· Pajang tahun saka 1275
· Lasem tahun saka 1276
· Pajang tahun saka 1279
· Lumajang tahun saka 1281

Dalam perjalanan yang terakhir tersebut Gajah Mada tidak ikut serta
, Demikianlah Gajah Mada dipanggil kembali menjadi patih Amangku Bumi, semua orang dikerahkan untuk mencari ke pedusunan, hal tersebut membuktikan betapa besar jasa patih Gajah Mada terhadap perkembangan wilayah Kerajaan majapahit. Demikianlah tafsiran tentang kemoksaan tentang patih Gajah Mada dan amukti Palapa setelah peristiwa bubat seperti terdapat dalam kidung Suandayana dan Pararaton. Dalam Nagarakretagama diceritakan hal yang sedikit berbeda.

Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh "Madakaripura" yang berpemandangan indah di Tongas Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura. Disebutkan dalam Negarakretagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah gering (sakit). Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi. Prabu Hayam Wuruk sangat terharu dan sedih dengan kepergian Gajah Mada, selain karena jasa yang sangat besar bagi perkembangan Majapahit, Gajah Mada juga dicintai rakyat karena dapat berbaur dengan semua kalangan.

Gajah Mada berprinsip bahwa hidup hanya sekali saja sehingga dalam perbuatannya sehari hari lebih banyak diisi dengan kegiatan beramal. Meninggalnya Gajah Mada menurut catatan Prapanca yang dituangkan dalam Negarakertagama dalam pupuh LXXI/I. Kabar dari Pararaton menyebut, tahun meningalnya Gajah Mada adalah 1290. Dalam hal ini, berita dari Negarakertagama lebih bisa dipercaya karena ditulis oleh Prapanca yang hidup sezaman dengan Gajah Mada). "Dari dialog imaginer paranormal didapat gambaran sosok Gajah Mada . Pada kesempatan tersebut, Gajah Mada menggambarkan sosok dirinya dalam untaian kata-kata bersyair.
  • “Aku masih bocah ketika pranyatan kamardikan (Pranyatan kamardikan, Jawa, pernyataan kemerdekaan atau proklamasi. Hari itu berbarengan dengan hari ketika Raden Wijaya dinobatkan menjadi raja pertama Majapahit) Majapahit itu dikumandangkan. Aku masih ingat karena saat itu tiba-tiba banyak orang berbicara tentang Wilwatikta yang diharapkan menjadi sebuah negara yang besar.

    Aku, siapakah aku? Orang menyebutku Gajah Mada. Sampai sejauh ini, tidak seorang pun tahu siapa aku. Dari mana asalku? Ada orang yang mengira aku bernama Gajah dari desa Mada. Ada pula yang mengira aku berasal dari Bali. Dari mana sebenarnya asalku? Aku telah mengambil keputusan untuk melipatnya dalam hati, termasuk siapa orang tuaku, aku tak berminat untuk bercerita. Aku dan latar belakangku sama sekali tidak penting sebagaimana berharap, kelak, berbarengan dengan akhir hidupku, tak perlu ada pihak yang menyesalkan mengapa aku tidak memiliki keturunan dan dimana pula aku dikubur. Namaku mulai dikenal orang ketika aku mengabdikan diri menjadi prajurit dengan tugas dan tanggung jawab mengamankan lingkungan istana serta memberikan pengawalan kepada segenap kerabat raja.

    Aku sungguh beruntung karena berada di tempat yang tepat dan di waktu yang tepat ketika ontran-ontran (Ontran-ontran, Jawa, geger, kekacauan) Ra Kuti terjadi. Karena keberhasilanku menyelamatkan raja dan mengembalikannya pada kekuasaan yang dirampok para Dharmaputra Winehsuka, aku diangkat menjadi Patih Kahuripan mendampingu Tuan Putri Breh Kahuripan atau Sri Gitarja. Selanjutnya, aku ditunjuk menjadi patih di Daha mendampingi Tuan Putri Breh Daha atau Dyah Wiyat.

    Kedekatanku dengan Paman Arya Tadah, Patih Amangkubumi Majapahit kembali menunjukkan kepadaku bahwa aku berada di tempat yang tepat dan di waktu yang tepat. Aku diminta menggantikannya menjadi patih amangkubumi karena beliau sakit-sakitan. Aku tiba-tiba tersadar bahwa ternyata peluangku untuk menduduki jabatan yang amat tinggi itu cukup besar. Padahal, di sekitarku ada banyak sekali calon yang layak ditunjuk menjadi mahapatih yang baru. Ada beberapa mahamenteri di barisan katrini yang lebih layak dariku.

    Namun, tidak serta merta aku menerima tawaran itu. Aku tahu ada banyak orang yang merasa lebih pantas dan lebih berjasa untuk ditunjuk menjadi mahapatih. Kepada Paman Arya Tadah, aku minta waktu untuk membereskan lebih dulu pemberontakan di dua tempat sekaligus, yaitu di Sadeng dan Keta. Jika aku bisa merampungi makar di dua tempat itu, barulah aku bersedia. Aku menumandangkan sumpahku untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara yang ditandai dicabutnya Aksobhya dan digantikan gupala Camunda.

    Sejak itu, hampir seluruh waktuku aku gunakan untuk meyatukan seluruh negara di wilayah Nusantara. Satu demi satu, negara yang ada diimbau untuk bergabung. Mereka harus disadarkan, kesatuan dan persatuan itu sangat penting karena di luar sana, ada negara Tartar yang pasti akan selalu berusaha mencari celah untuk menancapkan penaruhnya sebagaimana dulu pernah dialami Singasari. Untung, Sang Prabu Kertanegara telah bertindak benar. Utusan dari Tartar itu dipotong telinganya dan digunduli kepalanya.

    Agar hal itu tidak terulang kembali, hanya satu jawabnya, semua negara harus bersatu di bawah naungan Majapahit. Sekuat apapun, Tartar hanya kuat di tempatnya, tetapi tidak di sini. Jika ribuan prajurit Tartar dikirim, Majapahit siap untuk menyediakan jumlah yang sama. Untuk menyatukan seluruh wilayah Nusantara tak cukup dengan duduk di atas kursi di belakang meja sambil menyalurkan perintah. Aku tak percaya ada keberhasilan dengan cara itu. Aku amat yakin sampai mendarah daging, untuk mewujudkan mimpi besarku, tak ada pilihan lain kecuali menyingkirkan nafsu hamukti wiwaha.

    Hamukti Wiwaha adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan nikmat duniawi. Menikamti tingginya derajat dan pangkat, menikmati hidup dengan tiada hari tanpa bujana handrawina (Bujana handrawina, Jawa, pesta makan minum) merupakan salah satu pilihan yang bisa kuambil megingat aku adalah seorang mahapatih yang menjalankan pemerintahan mewakili raja. Akan tetapi, bukan hamukti wiwaha yang kuambil. Aku memilih lawan katanya, yaitu Hamukti palapa. Hanya semangat lara lapa (Lara lapa, Jawa, hidup menderita) atau palapa yang bisa mengantarku meraih apa yang aku impikan. Orang menyebut, aku tidak akan makan buah palapa, tidak makan rempah-rempah. Apa pun kata mereka, pilihan hamukti palapa yang kuambil adalah semata-mata berprihatin. Tanpa, dilandasi prihatin, sebuag doa yang dipanjatkan kepada Hyang Widdi tak terkabulkan. Tanpa prihatin, sebuah kerja besar tidak membuahkan hasil. Dilandasi laku prihatin dan kerja besar hamukti palapa itulah, satu demi satu untaian zamrud di Nusantara mewujud. Beberapa negara yang diimbau untuk bersatu menyatakan diri bergabung. Namun, ada pula yang harus diimbau beberapa kali dan terpaksa harus diancam. Jika negara-negara itu tidak ingin bergabung, untuk mereka hanya tersisa sebuah bahasa yang paling mudah dipahami, yaitu, digempur.
    Perangku terjadi dimana-dimana, di Bali, Tumasek, Luwuk, Tanjung Pura, Dompo hingga Riau. Wilayah Majapahit akhirnya menjadi sangat besar. Beban seberat apapun jika ditanggung bersama pasti menjadi ringan. Dengan armada laut yang dibangun bersama-sama, kekuatan dari manca yang berusaha menancapkan pengaruhnya bisa dihalau. Persatuan dan kesatuan Majapahit juga memberikan dampak yang bagus, antara lain perang antara beberapa negara bawahan yang selama ini bermusuhan tidak terjadi lagi. Semua masalah bisa tuntas diselesaikan di Tatag Rambat Bale Manguntur lewat sidang pasewakan yang digelar setahun sekali.

    Lalu, masalah timbul dari Sunda Galuh. Aku tidak senang dengan sikap Sunda Galuh yang masih membangkang, tidak mau menggabungkan diri dengan Majapahit. Dalam sidang di pasewakan, berulang kali aku mengutarakan pentingnya menyerbu Sunda Galuh dan memaksanya untuk bergabung dengan Majapahit. Akan tetapi, aku mengalami kesulitan memaksakan penyerbuan itu karena perlawanan dan ketidaksetujuan dari para Ibu Suri. Mereka beralasan, leluhurnya juga berasal dari Sunda Galuh.Penyerbuan ke Sunda Galuh kuyakini tidak akan mengalami kesulitan karena negara yang berada di wilayah Priangan itu menempatkan diri sebagai negara yang mengedepankan perdamaian. Namun, untuk bisa mengalahkan Sunda Galuh, aku harus berhadapan dengan niat Sang Prabu mengawini anak Raja Sunda Galuh, Dyah Pitaloka Citraresmi.

    Perang Bubat adalah kesalahan pengelolaan keadaan yang aku lakukan. Sejujurnya, aku harus menyesali peristiwa itu. Andaikata aku sabar sedikit, penyatuan itu akan terjadi pula. Keadaan menjadi tidak terkendali karena Raja Sunda Galuh tak hanya punya nyali, tetapi juga punya harga diri. Aku membutuhkan waktu amat lama untuk mengakui peristiwa itu tak perlu terjadi.

    Dalam semangatku membangun Majapahit, aku melumuri jiwaku dengan hamukti palapa. Aku menghindari gebyar duniawi. Kuhindari nafsu duniawi, termasuk aku menghindari memiliki istri. Dengan cita-cita sedemikian besar dan membutuhkan kerja keras, aku tidak mau terganggu oleh rengek istri dan atau tangisan anak. Tidak beristri dan tidak memiliki anak harus aku akui sebagai pilihan tersulit. Aakan tetapi, aku layak bersyukur bisa menjalaninya. Dengan kebebasan yang aku miliki, aku bisa berada di mana pun dalam waktu lama tanpa harus terganggu oleh keinginan untuk pulang. Labih dari itu, aku berharap apa yang kulakukan itu akan menyempurnakan pilihan akhir hidupku dalam semangat hamukti moksa (Hamukti moksa, Jawa, semangat untuk meski lenyap, telah melakukan pekerjaan luar biasa demi orang lain, seperti lilin yang rela terbakar asal bisa menerangi tanpa meminta balasan, seperti pahlawan yang rela menjadi martir).


    Biarlah orang mengenangku hanya sebagai Gajah Mada yang tanpa asal usul, tak diketahui siapa orang tuanya, tak diketahui di mana kuburnya, dan tidak diketahui anak turunnya. Biarlah gajah Mada hilang lenyap, moksa tidak diketahui jejak telapak kakinya, murca berubah bentuk menjadi udara.
    Hari ini, ketika aku sendiri di istana karena Sang Prabu Hayam Wuruk sedang berada di Simping Blitar yang menjadi bagian rencana perjalanan panjangnya, aku merasakan nyeri di dada kiriku. Sakitnya tidak ketulungan. Peluh bagai diperas dari tubuhku. Aku merasa pintu gerbang kematian telah dibuka. Aku harus melepaskan semua urusan duniawiku, termasuk bagian yang paling sulit karena ada sesuatu yang menyatu di tubuhku, warisan yang aku peroleh dari Kiai Pawagal di Ujung Galuh.

    Untuk membebaskan diri darinya bukan pekerjaan gampang. Aku tidak punya pilihan lain kecuali memutar udara itu dengan kencang, makin kencang dan makin kencang. Aku berharap saat pusaran angin itu bubar, hilang pula aku.
    Demikian hasil penerawangan sosok Gajah Mada oleh Paranormal. Dalam pupuh 12/4 pujian pujangga Mpu Pranpanca dalam kidungnya sebagai berikut “ Di bagian timur laut adalah rumah Sang Gajah Mada, patih Wilkatikta, seoarang menteri wira, bijaksana serta setia bakti kepada raja, fasih bicara, jujur, pandai, tenang, teguh, tangkas serta cerdas, tangan kanan raja yang melindungi hidup penggerak dunia “ Keangungan Majapahit adalah berkat kemampuan Gajah Mada dalam menunaikan tugasnya sebgai patih Amangku Bumi
Mengenai asal usul Gajah Mada ada pendapat yang mengatakan bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatera
  • Satu-satunya pulau di Indonesia yang ada gajahnya adalah Sumatra. Yang pusat koservasinya ada di Way Kambas, Jambi. Dan kalau dilihat dari catatan sejarah, ada benang merah yang dapat ditarik. Dara Petak berasal dari Kerajaan Dharmasraya. Kerajaan ini lokasinya ada di Sumatra, seperti kutipan dibawah ini Kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Melayu Jambi adalah kerajaan yang terletak di Sumatra, berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Lokasinya terletak di selatan Sawahlunto, Sumatera Barat sekarang, dan di utara Jambi.

    Setelah berhasil melaksanakan ekspedisi Pamalayu, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga beserta keluarganya dan Dara Petak kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Kertanegara, raja yang mengutusnya. Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Sang Kertanegara telah tewas dan Kerajaan Singasari telah musnah oleh Jayakatwang, raja Kadiri.

    Oleh karena itu, Dara Petak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanegara, raja Majapahit ke-2. Dengan kata lain, raja Majapahit ke-2 adalah keponakan Mahesa Anabrang dan sepupu Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung.
  • Berdasarkan catatan-catatan diatas, dapat disimpulkan, saat Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Petak dari Sumatra ke Jawa, Gajah Mada termasuk dalam rombongan tersebut yang bertugas untuk mengawal keselamatan putri raja mereka sekaligus sebagai duta dari Kerajaan Darmasraya. Atau malah Gajah Mada ditugaskan secara khusus untuk menjadi pengawal pribadi Dara Petak. Yang akhirnya tinggal dan menetap di Majapahit mengikuti tuannya yang menjadi permaisuri raja Majapahit. Dari uraian-uraian di atas, ada yang berkesimpulan bahwa asal-usul Gajah Mada bukan dari Jawa tetapi Sumatra?


Berikut Nama Nama Patih Majapahit menurut Kitab Pararaton :
  1. Mahapatih Nambi 1294 – 13162.
  2. Mahapatih Dyah Halayuda (Mahapati) 1316 – 13233.
  3. Mahapatih Arya Tadah (Empu Krewes) 1323 – 13344.
  4. Mahapatih Gajah Mada 1334 – 1364
  5. Mahapatih Gajah Enggon 1367 – 13946.
  6. Mahapatih Gajah Manguri 1394 – 13987.
  7. Mahapatih Gajah Lembana 1398 – 14108.
  8. Mahapatih Tuan Tanaka 1410 – 1430
begitulah yang ditulis oleh pararaton, tentunya dua buah karya sastra kuno besar (Negarakertagama dan Pararaton) layak dipercaya. Nama Gajah Mada juga tercantum di prasasti Singhasari tahun 1351, Mahamantrimukya Rakryan Mapatih Mpu Mada

Kepustakaan
  1. Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka
  2. R.M. Mangkudimedja. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah
  3. Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
  4. Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
  5. "http://id.wikipedia.org/wiki/Gajah Mada"